JAKARTA, Headlinews.id – Insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur yang menewaskan 15 orang mendapat respons dari Hasan Basri yang meminta pengusutan menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan tersebut.
Peristiwa ini dinilai tidak bisa dipandang sebagai kejadian biasa, mengingat dampak yang ditimbulkan cukup besar dan menyangkut keselamatan publik dalam penggunaan transportasi massal berbasis rel.
Kecelakaan yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam sekitar pukul 20.52 WIB itu juga menyebabkan puluhan penumpang mengalami luka-luka. Hingga Selasa pagi, data sementara mencatat sebanyak 84 korban masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi.
Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak insiden, baik dari sisi korban jiwa maupun tekanan terhadap sistem penanganan darurat di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Hasan Basri menegaskan langkah investigasi harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan agar publik mendapatkan kejelasan terkait penyebab utama kecelakaan.
Ia menilai, proses pengusutan tidak boleh dilakukan secara terburu-buru tanpa pendalaman yang komprehensif terhadap seluruh aspek yang terlibat.
“Pengusutan harus dilakukan secara menyeluruh dan terbuka. Semua kemungkinan perlu diperiksa secara detail agar penyebab utamanya bisa terungkap dengan jelas dan tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, investigasi perlu mencakup berbagai aspek penting, mulai dari kondisi teknis sarana dan prasarana, sistem persinyalan, hingga prosedur operasional yang diterapkan di lapangan. Menurutnya, pendekatan yang menyeluruh sangat diperlukan agar langkah perbaikan yang diambil nantinya benar-benar tepat sasaran.
“Tidak cukup melihat dari satu sisi saja. Harus ada pemeriksaan dari berbagai faktor, termasuk sistem pengamanan dan pelaksanaan operasional, sehingga bisa diketahui titik lemahnya di mana,” tegasnya.
Selain menyoroti aspek investigasi, Hasan Basri juga menekankan pentingnya penanganan korban sebagai prioritas utama. Ia meminta agar seluruh pihak terkait, baik pemerintah maupun operator, memastikan bahwa korban mendapatkan pelayanan maksimal tanpa kendala, termasuk dalam proses perawatan lanjutan.
“Penanganan korban harus menjadi perhatian utama. Mulai dari layanan medis hingga dukungan lanjutan harus dipastikan berjalan dengan baik, sehingga korban bisa segera pulih,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan agar pemenuhan hak-hak korban, termasuk kompensasi, dilakukan secara cepat dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kepastian serta rasa keadilan bagi korban maupun keluarga yang terdampak.
“Setiap korban memiliki hak yang harus dipenuhi. Mekanismenya harus jelas, cepat, dan tidak berlarut-larut agar tidak menambah beban bagi keluarga korban,” ujarnya.
Dalam konteks pencegahan, Hasan Basri menilai perlunya penguatan sistem pengawasan, terutama pada jalur kereta dengan tingkat kepadatan tinggi. Ia menekankan bahwa peningkatan pengawasan dan sistem pengamanan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kejadian serupa di masa mendatang.
“Pengawasan harus diperketat, terutama di jalur-jalur yang padat. Sistem pengamanan juga perlu dievaluasi agar lebih responsif terhadap potensi risiko yang ada,” tambahnya.
Sebagai informasi, kecelakaan terjadi saat KRL rute Jakarta–Cikarang berhenti di jalur akibat gangguan operasional di depan, sebelum akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang. Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian KRL, khususnya di bagian belakang, serta menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Hasan Basri berharap hasil investigasi yang dilakukan nantinya tidak hanya berhenti pada penemuan penyebab, tetapi juga ditindaklanjuti dengan langkah konkret untuk memperbaiki sistem keselamatan transportasi nasional secara menyeluruh.
“Hasil penyelidikan harus menjadi dasar perbaikan nyata, sehingga ke depan keselamatan penumpang benar-benar bisa lebih terjamin dan kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (*/rn)










