TARAKAN, Headlinews.id – Tantangan yang datang silih berganti sejak merintis usaha kain tenun pada 2018, tak membuat Yohanes Suyanto berhenti berkarya. Dari proses panjang itu, Ketua Koordinator Kelompok Pengrajin Tenun Pakis Kaltara ini mengembangkan beragam pola dan motif yang mengangkat kearifan lokal.
Yohanes merupakan pria asal Maumere, Nusa Tenggara Timur kelahiran 56 tahun lalu. Ia menetap dan menjadi penduduk Tarakan sejak Tahun 1996. Dari sebelumnya hanya seorang pekerja di perusahaan tambang batu bara kemudian beralih ke usaha tenun beranggotakan 20 orang.
“Awalnya hanya untuk kebutuhan sendiri, sampai ada teman yang mau pesan juga. Jadi, saya mulai dari pesanan orang di sekitar dulu,” ujar Yohanes, Senin (24/6/2026).
Dengan modal seadanya, Yohanes bersama keluarga kecilnya mulai memproduksi kain tenun menggunakan warna dan motif masih membawa ciri khas kampung halamannya. Seiring berjalan waktu, peminat mulai berdatangan.
Baru memulai usaha, Yohanes sudah harus menghadapi Covid-19. Dampaknya cukup besar saat itu, orderan sudah masuk tetapi pemerintah mengeluarkan intruksi jaga jarak. Pilihannya, semua pekerjaan dilakukan di rumah masing-masing pekerja.
Setelah Covid-19 berlalu, orderan semakin bertambah. Ia bangkit dengan pola baru, mulai dari motif hingga teknik pembuatan warna.
“Ada lima langkah saya kerjakan sendiri. Ketika benang sudah siap, saya serahkan kepada anggota untuk proses penenunan. Untungnya saat itu, waktu selesai Covid-19, ada dukungan dari pemerintah, pemasaran tetap berlangsung dan orderan ada terus,” ungkapnya.
Berbagai motif mulai bermunculan, salah satunya, pola pakis yang merupakan tanaman asal Kaltara. Namun, masih menggunakan satu motif yang dominan.
Ia mulai melakukan kolaborasi agar motifnya tidak monoton. Mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa suku yang ada di Kaltara. Misalnya, Suku Dayak Kenyah, beberapa suku Dayak lainnya, serta Tidung.
“Di aplikasikan menjadi kain khas Kaltara, seperti motif Pakis, Tandu Galung, Belah Ketupat, Tabur Bintang, Tameng, Burung Enggang. Dua tahun terakhir ini, kami kolaborasikan berbagai jenis motif dan warna,” tuturnya.
Proses pewarnaan, bisa dengan cara fermentasi atau proses perebusan. Setiap warna memiliki teknik berbeda-beda, misalnya warna biru menggunakan daun nila. Sedangkan hitam hasil kolaborasi beberapa bahan.
“Tapi, untuk jenis dan komposisi bahan tertentu, saya memang tidak terlalu terbuka karena itu merupakan salah satu resep rahasia dalam proses produksi,” tandasnya.
Proses hingga menjadi selembar kain membutuhkan waktu satu bulan. Penenunan yang paling lama, sekitar tujuh hari. Sedangkan proses lainnya bisa lima hari, tiga hari atau dua hari.
Sedangkan modal, satu kain sekitar Rp1,5 juta dengan harga jual Rp2 jutaan. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan sekitar 20 lembar berukuran tiga meter dan lebar 80 sentimeter. Semua prosesnya tidak bisa dilakukan secara cepat, harus memiliki ketelatenan dan ketelitian, sehingga tidak bisa berpacu dengan waktu.

Yohanes juga sudah mengembangkan kerajinan tenun menjadi produk seperti tas, gelang hingga syal. Gayung bersambut, peminat bertambah tidak hanya dari Jakarta tetapi juga dari luar negeri, seperti Malaysia.
“Pemesanannya melalui online. Kami didorong membuat badan usaha, biarpun perseorangan saja, supaya bisa membuka market luar Kaltara sampai ke luar negeri. Makanya kami bersyukur sekali bisa dibantu pemerintah daerah, termasuk dari Bank Indonesia (BI),” ungkapnya.
Bantuan yang didapatkannya, tidak hanya dalam bentuk pelatihan, informasi dan pembinaan dari pemerintah daerah, tetapi juga peralatan dari Perwakilan BI Provinsi Kaltara. Diantaranya, peralatan tenun, menggiling atau mengolah bahan warna hingga alat penampung air atau tandon.
Pendampingan dari BI sejak tahun 2021 tidak langsung mendapatkan bantuan, melainkan harus melalui proses pembinaan mulai dari pelatihan teknis, pemasaran, bagaimana melihat pasar, serta pemasaran secara digital.
“Dulu kami lebih banyak melakukan pemasaran secara offline. Sekarang, sudah bisa menggunakan market digital,” tuturnya.
Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Tarakan, Ardiansyah mengatakan pembinaan UMKM tidak harus dilakukan oleh satu instansi saja. Ada beberapa instansi lain yang juga berkolaborasi, seperti Bank Indonesia, perbankan, Pertamina, maupun BUMN yang memiliki program pembinaan UMKM.
“Misalnya melalui UMKM Center dan berbagai event pemerintah kota yang melibatkan pelaku UMKM. Kemarin ada UMKM Fair dan itu cukup membantu peningkatan pendapatan UMKM,” jelas Ardiansyah, dihubungi Rabu (26/8/2026).
Membawa pelaku UMKM beranjak ke digitalisasi, kata dia juga sudah dilakukan. Awal Agustus lalu, DKUKMP juga memberikan pelatihan penggunaan Inaproc (Indonesia Procurement) sebuah ekosistem digital nasional untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagai etalase resmi produk dan jasa bersertifikat TKDN/PDN dari penyedia terverifikasi.
“Pemasaran digital memang sudah menjadi bagian dari perkembangan UMKM. Bahkan pembinaan untuk pemanfaatan AI sudah kami lakukan. Sekarang eranya digital, UMKM juga perlu memanfaatkannya,” ungkapnya lagi.
Dukungan yang sama turut disampaikan Wakil Ketua Harian Dekranasda Kaltara, Sipta Meylina Denny Harianto. Ia menyebut Pemprov Kaltara mendorong keterampilan dan kerajinan membawa kearifan lokal, sekaligus mengembangkan kekayaan budaya lokal dalam karya modern.
Meski, ia mengakui diperlukan pembinaan yang berkelanjutan agar bisa menciptakan pelaku usaha kreatif dan mampu membawa identitas Kaltara ke tingkat nasional hingga internasional.
“Kaltara memiliki beragam kekayaan wastra, mulai dari batik hingga tenun khas daerah yang dapat dikembangkan menjadi produk fashion bernilai ekonomi. Apalagi, budaya lokal kita memiliki potensi besar. Tantangannya, bagaimana mengolahnya menjadi karya yang kreatif, modern, dan relevan dengan generasi sekarang,” pungkasnya.
Reporter : Riris Bandriyani







