IBADAH puasa mengandung banyak pelajaran berharga. Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, serta rasa syukur atas nikmat Allah.
Melalui ibadah ini, setiap muslim dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga ucapan, serta memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Perintah puasa telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai kewajiban bagi umat Islam. Sebagaimana firman-Nya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Kuti ba ‘alaikumus-shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la‘allakum tattaquun.
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat tersebut menjelaskan tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan tidak hanya tercermin dalam rajinnya seseorang beribadah, tetapi juga dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
Orang yang bertakwa akan lebih sabar, lebih jujur, serta lebih peduli terhadap sesama.
Saat menahan lapar dan dahaga, kita diajak merasakan bagaimana rasanya kekurangan. Dari pengalaman itu tumbuh rasa empati dan kepedulian terhadap orang-orang yang kurang mampu.
Puasa pun menjadi sarana untuk melatih diri agar lebih menghargai makanan, tidak berlebihan, dan mau berbagi dengan orang lain.
Bagi anak-anak, puasa juga menjadi latihan membentuk karakter. Mereka belajar bangun lebih awal untuk sahur, menahan diri ketika ingin makan atau minum, serta menjaga sikap agar tetap baik meski sedang merasa lelah. Dari kebiasaan kecil inilah tumbuh kedisiplinan dan tanggung jawab.
Dengan memahami makna puasa yang sebenarnya, diharapkan ibadah yang dijalankan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.










