TARAKAN, Headlinews.id – Kalimantan Utara memiliki posisi strategis dalam pelaksanaan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian Kehutanan. Hampir 50 persen dari keseluruhan target program berada di provinsi ini. Keberhasilan pelaksanaannya diharapkan dapat menjadi tolok ukur rehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah lain.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) selaku Executive Director M4CR Project, Muhammad Zainal Arifin, mengatakan besarnya porsi target tersebut membuat Kaltara memiliki peran strategis dalam pengembangan rehabilitasi mangrove.
“Hampir 50 persen dari target M4CR ada di Kaltara. Kami ingin Kaltara benar-benar berhasil sehingga bisa menjadi benchmark untuk kegiatan rehabilitasi, khususnya ekosistem mangrove,” ujar Zainal usai menjadi narasumber dalam Media Gathering M4CR Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2026, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan M4CR mencakup tiga pendekatan dalam pengelolaan ekosistem hutan, yakni menjaga kawasan yang kondisinya masih baik, mempertahankan ekosistem yang sudah bagus, serta memulihkan wilayah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan. Seluruh pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung rehabilitasi hutan, termasuk kawasan mangrove di Kalimantan Utara.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah pengelolaan tambak di kawasan mangrove. Menurut Zainal, penerapan sistem silvofishery dapat menjadi model pengelolaan yang menjaga fungsi ekologis mangrove sekaligus mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
“Pengelolaan tambak yang ada di ekosistem mangrove menjadi salah satu tantangan utama. Kami berharap silvofishery bisa menjadi contoh yang baik, sehingga secara ekologi tetap terjaga dan sosial ekonomi masyarakat juga tetap berjalan,” katanya.
Selain rehabilitasi lingkungan, M4CR juga memberikan ruang bagi penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Salah satu instrumen yang digunakan adalah matching grant atau hibah produktif untuk membantu masyarakat mengembangkan kegiatan usaha yang berkaitan dengan potensi lokal dan rehabilitasi mangrove.
Zainal mengatakan, skema tersebut dirancang untuk memperlihatkan kepada masyarakat manfaat program yang mencakup aspek lingkungan dan peningkatan kesejahteraan. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif juga diharapkan memperkuat kepercayaan terhadap keberlanjutan M4CR.
“Matching grant ini menjadi salah satu bagian dari kegiatan M4CR untuk menunjukkan program ini tidak hanya berfokus pada rehabilitasi mangrove, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perhatian kami mencakup aspek ekologi sekaligus sosial ekonomi. Ini juga menjadi cara membangun kepercayaan masyarakat agar mereka melihat kegiatan M4CR sebagai program yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam proses penyalurannya, masyarakat terlebih dahulu mengajukan proposal usaha. Proposal yang terkumpul kemudian dinilai oleh komite investasi sebelum kelompok ditetapkan sebagai penerima hibah.
Bantuan diberikan dalam bentuk dukungan produktif untuk mengembangkan kegiatan produksi yang memiliki keterkaitan dengan rehabilitasi mangrove.
“Tim sudah mengumpulkan proposal-proposal yang diajukan masyarakat. Kemudian, proposal tersebut dinilai oleh komite investasi dan bantuan diberikan dalam bentuk hibah produktif agar masyarakat bisa mengembangkan kegiatan produksi yang berkaitan dengan rehabilitasi mangrove,” ungkap Zainal.
Penyaluran hibah juga disertai pemantauan terhadap perkembangan usaha penerima. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kondisi masing-masing usaha, baik yang mengalami pertumbuhan, masih berjalan stagnan, maupun tidak lagi aktif. Hasil pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan produktif memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pastinya tetap kami monitor. Kami melihat apakah usaha yang sudah menerima hibah berkembang, masih stagnan, atau justru tidak aktif. Kami berharap semuanya bisa berkembang. Hibah produktif ini menjadi pemicu agar masyarakat dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih baik,” tutupnya. (saf)










