BULUNGAN, Headlinews.id – Uji coba Associated Mangrove Aquaculture (AMA) di Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, mulai memasuki tahap panen perdana. Penerapan metode ini membawa perubahan dalam pengelolaan tambak, mulai dari pemantauan kualitas air hingga penggunaan bahan alami. Meski demikian, hasil budidaya masih perlu dievaluasi karena panen baru berlangsung pada siklus pertama.
Suwarno, petambak yang terlibat dalam uji coba tersebut, mengatakan penerapan AMA mulai menunjukkan perubahan pada kondisi tambak. Ia menyebut kualitas air, suhu, pH, dan salinitas menjadi sejumlah aspek yang diamati selama proses budidaya.
“Dari pola yang sudah dijalankan, kami mulai terbantu. Dari kualitas air, suhu, pH sampai salinitas, ada perubahan. Cuma kami juga belum tahu ke depannya seperti apa karena program ini masih berjalan. Untuk saat ini, pelaksanaannya sudah sesuai SOP,” kata Suwarno.
Panen perdana dilakukan pada malam sebelumnya. Namun, hasilnya belum dapat menggambarkan keseluruhan produksi karena pengambilan udang dilakukan secara bertahap. Suwarno menjelaskan, udang di tambak tersebut perlu dipancing keluar dengan memasukkan air baru agar dapat dijangkau saat panen.
“Ini baru malam tadi kami panen, jadi belum kelihatan hasil keseluruhannya. Nanti kami akan melakukan panen berulang-ulang, mungkin tiga sampai lima kali, pagi dan malam. Udangnya harus dipancing dengan memasukkan air baru supaya keluar. Kalau tidak, udang masih bertahan di dalam tambak,” ujarnya.
Perubahan perlakuan budidaya juga terlihat dari penggunaan mikroorganisme lokal (MOL) dan fermentasi dedak alami. Suwarno mengatakan sebelumnya ia belum mengenal penggunaan bahan tersebut dalam pengelolaan tambak.
“Dulu kami belum mengenal MOL atau mikroorganisme lokal. Sekarang kami menggunakan itu, termasuk fermentasi dedak alami. Kami tidak menggunakan bahan kimia. Tetapi hasilnya tidak bisa langsung terlihat. Tetap perlu proses dan evaluasi,” katanya.
Tambak milik Suwarno memiliki luas sekitar lima hektare dan dibagi menjadi dua bagian, yakni area budidaya serta area penyaringan air sebelum dialirkan ke tambak.
Dalam pelaksanaan uji coba, pembangunan tanggul, parit, dan pekerjaan lapangan ditanggung pihak program. Sementara pengeluaran untuk kebutuhan pribadi sehari-hari tetap menjadi tanggung jawab petambak.
Dari sisi waktu pemeliharaan, Suwarno menyebut pola budidaya sebelumnya memungkinkan panen sekitar dua setengah bulan. Sementara itu, tim pendamping menggunakan acuan tiga bulan. Penentuan waktu panen tetap mempertimbangkan ukuran dan kondisi udang serta arahan tim pendamping.
Ia mengakui hasil panen perdana belum dapat menjadi tolok ukur keberhasilan metode tersebut. Pengamatan perlu dilanjutkan hingga beberapa kali panen untuk melihat perkembangan hasil budidaya.
“Memang tidak bisa langsung instan. Kami perlu waktu untuk melihat hasilnya dan melakukan evaluasi. Apa yang sudah dikerjakan tim NASCLIM dan pihak lainnya mulai menunjukkan perubahan, tetapi perkembangannya tetap perlu dilihat lebih lanjut,” ujar Suwarno.
Uji coba tersebut merupakan bagian dari program NASCLIM, yang mengembangkan solusi berbasis alam untuk mendukung penghidupan masyarakat di lanskap mangrove Kalimantan Utara.
Perwakilan Project NASCLIM, Arman, menjelaskan AMA dirancang untuk menghubungkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan upaya menjaga ekosistem mangrove.
“AMA itu Associated Mangrove Aquaculture, atau budidaya tambak yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Program NASCLIM kami kembangkan sebagai solusi berbasis alam untuk penghidupan masyarakat di lanskap mangrove yang ada di Kalimantan Utara,” ujar Arman.
Menurut Arman, program tersebut dijalankan di empat desa di Kabupaten Bulungan, yakni Liagu, Sekatak Buji, Sekatak Bengara, dan Salimbatu. Setiap desa memiliki setidaknya satu model tambak AMA dan satu kegiatan rehabilitasi mangrove secara ekologis.
Namun, Desa Liagu menjadi lokasi pertama yang memasuki fase panen pada siklus awal melalui kelompok Liagu Lestari Barokah.
“Di tiap desa ada setidaknya satu model tambak AMA dan satu kegiatan rehabilitasi mangrove secara ekologis. Saat ini baru satu yang mulai masuk fase panen pada siklus pertama, yaitu di Desa Liagu bersama kelompok Liagu Lestari Barokah,” katanya.
Arman mengatakan pengembangan model percontohan juga melibatkan Universitas Borneo Tarakan. Keterbatasan pendampingan membuat program belum dapat menjangkau seluruh tambak.
Pengalaman dari lokasi percontohan diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan mendorong petambak lain menerapkan pola serupa secara mandiri.
Kepala Desa Liagu, Samsir turut menyampaikan dukungannya. Ia berharap penerapan AMA memberikan hasil yang baik sehingga petambak lain di wilayahnya tertarik mempelajari metode tersebut.
“Kalau kami dari pemerintah desa sangat mendukung program ini. Ini pertama kali ada di Kaltara, khususnya di Desa Liagu, dan sekarang masih dalam tahap uji coba. Mudah-mudahan ke depan ada hasilnya, sehingga teman-teman petambak di Desa Liagu bisa ikut dengan program ini,” katanya. (saf)










