TARAKAN, Headlinews.id – Kepiting bakau hingga sarang burung walet mendominasi pengiriman keluar Kalimantan Utara selama Operasi Patuh Karantina 13–27 Maret 2026. Sementara itu, arus komoditas yang masuk justru didominasi kebutuhan pokok dan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ketua Tim Kerja Penegakan Hukum Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Utara (BKHIT Kaltara), drh Fayshal Hakim mengatakan komoditas perikanan dan hasil alam masih menjadi penyumbang utama arus pengeluaran dari wilayah tersebut selama periode operasi berlangsung.
“Komoditas seperti kepiting bakau, udang windu, ikan bandeng, dan sarang burung walet tercatat paling dominan dikirim keluar selama periode Operasi Patuh Karantina,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Dominasi komoditas tersebut menunjukkan sektor perikanan dan hasil alam masih menjadi andalan dalam distribusi keluar daerah. Komoditas tersebut umumnya dikirim melalui jalur resmi dengan memenuhi persyaratan karantina yang berlaku.
Sedangkan arus komoditas yang masuk ke Kalimantan Utara didominasi kebutuhan pokok dan bahan pangan, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Beberapa komoditas yang tercatat antara lain benih ikan, benih udang, ikan layang, ayam hidup, stroberi, cabai, bawang merah, sayuran segar, daging ayam beku, serta bunga potong.
Selain itu, komoditas strategis seperti beras juga menjadi salah satu penyumbang utama arus masuk. Produk hortikultura berupa sayur dan buah segar, serta produk hewan seperti daging ayam, daging sapi, telur, dan ikan, turut tercatat dalam volume yang tinggi selama periode operasi.
Produk pangan olahan seperti makanan beku dan produk kemasan, serta pakan ternak juga masuk dalam kategori komoditas dengan lalu lintas cukup tinggi.
“Di antaranya adalah beras sebagai komoditas strategis, kemudian produk hortikultura seperti sayur dan buah segar, serta produk hewan seperti daging ayam, daging sapi, telur, dan ikan. Selain itu, bahan pangan olahan (makanan beku, produk kemasan) dan pakan ternak juga termasuk dalam volume yang cukup tinggi,” katanya.
Dari sisi volume, arus lalu lintas komoditas selama pelaksanaan Operasi Patuh Karantina tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode reguler sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi di tengah penguatan pengawasan di berbagai pintu pemasukan dan pengeluaran.
“Selama operasi berlangsung, volume komoditas cenderung menurun dibandingkan kondisi normal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan operasi juga menjadi bahan evaluasi dalam pengawasan karantina. Sejumlah aspek yang menjadi perhatian antara lain tingkat kepatuhan masyarakat, efektivitas pengawasan di lapangan, koordinasi antarinstansi, serta kesiapan sumber daya manusia dan sarana pendukung.
“Ini titik awal untuk memperkuat sistem yang lebih berkelanjutan. Melalui pengawasan rutin yang lebih ketat, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kapasitas petugas, serta penegakan hukum yang konsisten, efektivitas pengendalian karantina tetap dapat terjaga” katanya.
Selain itu, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dinilai masih perlu ditingkatkan agar pemahaman terhadap kewajiban pelaporan komoditas dapat lebih merata.
Fayshal menambahkan, perbaikan prosedur juga menjadi bagian dari hasil evaluasi, terutama dalam hal standarisasi pelaksanaan di lapangan serta penguatan digitalisasi dan integrasi data antarinstansi.
Penguatan juga diarahkan pada aspek penegakan hukum serta perluasan edukasi publik guna menekan potensi pelanggaran. Dalam pelaksanaan di lapangan, pengawasan dilakukan secara intensif melalui koordinasi dengan instansi terkait di pintu pemasukan dan pengeluaran, termasuk pada lokasi yang belum ditetapkan serta titik-titik rawan pelanggaran.
“Sejauh ini penguatan melalui koordinasi cukup efektif. Apalagi, peningkatan mobilitas masyarakat pada perayaan Idul Fitri 1447 H melalui berbagai moda transportasi (terutama laut dan udara) membuat proses pemeriksaan harus dilakukan dengan cepat namun tetap dituntut akurat,” tuturnya.
Di sisi lain, peningkatan mobilitas masyarakat menjelang dan selama Idulfitri 1447 Hijriah turut mempengaruhi kondisi di lapangan. Arus orang dan barang yang tinggi membuat proses pemeriksaan harus dilakukan dengan cepat tanpa mengurangi ketelitian.
“Kondisi ini menuntut petugas untuk tetap cepat dan akurat dalam melakukan pemeriksaan,” katanya.
Keterbatasan jumlah petugas juga menjadi tantangan tersendiri, terutama saat harus bekerja dalam durasi panjang yang berpotensi menurunkan konsentrasi dan stamina. Selain itu, tingkat kepatuhan masyarakat yang masih beragam turut memengaruhi dinamika pengawasan.
Ke depan, pengawasan karantina akan terus dilakukan melalui penguatan sistem yang lebih berkelanjutan, termasuk peningkatan kapasitas petugas, pemanfaatan teknologi digital, serta penegakan hukum yang konsisten.
“Pengawasan tetap berjalan dengan berbagai penguatan agar lebih optimal dan mampu menekan potensi pelanggaran,” pungkasnya. (saf)










