TARAKAN, Headlinews.id – Lonjakan harga kemasan plastik hingga mencapai 75 persen mulai memberi tekanan serius bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Tarakan. Kenaikan biaya operasional yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memaksa pelaku usaha mencari berbagai strategi agar tetap dapat bertahan.
Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Rika Pratiwi, pemilik usaha kuliner D’Two di Tarakan. Ia mengaku kenaikan harga kemasan terjadi sangat cepat dan langsung memengaruhi biaya produksi usahanya.
Menurut Rika, kemasan plastik merupakan komponen utama dalam usaha kuliner karena hampir seluruh produk makanan yang dijual membutuhkan wadah sekali pakai untuk distribusi kepada pelanggan.
Ia merincikan, pengeluaran untuk kemasan plastik kini mencapai sekitar Rp1,8 juta per bulan. Sebelumnya, biaya yang dikeluarkan hanya berkisar Rp770 ribu untuk kebutuhan yang sama.
“Kenaikannya sangat tinggi. Dampaknya jelas terasa bagi kami pelaku UMKM, karena kemasan itu kebutuhan pokok yang tidak bisa dihilangkan,” ujar Rika saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Rika menyebut lonjakan harga kali ini menjadi yang paling berat selama 11 tahun menjalankan usaha kuliner di Tarakan. Keluhan serupa, kata dia, juga banyak disampaikan pelaku UMKM lain melalui komunitas usaha lokal.
Untuk menahan kenaikan harga jual kepada konsumen, para pelaku usaha saat ini menghitung ulang Harga Pokok Penjualan (HPP) agar penyesuaian harga tetap dapat diterima pasar.
“Saat ini kami benar-benar menghitung ulang biaya produksi. Ada teman-teman UMKM yang mulai mengurangi porsi makanan supaya usaha tetap berjalan,” jelasnya.
Selain menekan porsi, sebagian pelaku usaha juga mencoba beralih ke kemasan alternatif yang lebih murah, termasuk menggunakan plastik dengan ketebalan berbeda atau mengganti merek kemasan sebagai solusi sementara.
Meski harus melakukan efisiensi, Rika menegaskan kualitas produk tetap menjadi prioritas utama agar kepercayaan pelanggan tidak hilang di tengah situasi sulit.
“Kalau terus naik, kami khawatir daya beli turun dan banyak usaha kecil tidak sanggup bertahan. Kami berharap ada solusi agar UMKM tetap bisa jalan,” pungkasnya. (saf)










