TARAKAN, Headlinews.id – Proses evakuasi jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam, pilot Pelita Air yang meninggal dunia akibat insiden pesawat kargo pengangkut bahan bakar minyak (BBM) di Krayan, Kamis (19/2/2026), akhirnya berhasil diterbangkan ke Tarakan, Jumat (20/2/2026).
Pesawat jenis AT-802 dengan registrasi PK-PAA milik Pelita Air sebelumnya menjalankan misi distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan Krayan.
Setelah selesai menyalurkan bahan bakar di Long Bawan, pesawat dalam perjalanan kembali ke Tarakan mengalami kecelakaan usai baru saja lepas landas dari runway 22. Pilot merupakan satu-satunya awak pesawat dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Komandan Pangkalan TNI AU Lanud Anang Busra Tarakan, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, M.Sc., M.Si (Han) menjelaskan, jenazah dibawa menggunakan pesawat MAF. Selanjutnya mendarat di Lanud Anang Busra pada pukul 12.25 WITA, setelah berangkat dari Long Bawan pukul 11.38 WITA.
“Pagi tadi, pesawat MAF berangkat dari Tarakan pukul 10.20 dan mendarat di Long Bawan pukul 11.10 WITA. Setelah tiba di Tarakan, jenazah langsung dibawa ambulans ke tempat pemulasaran jenazah di Gunung Lingkas Aci,” kata Andreas.
Setelah itu, jenazah akan diterbangkan ke Jakarta menggunakan maskapai Batik Air sekitar pukul 14.35 WITA dan diserahkan kepada pihak keluarga di Bogor. Selanjutnya, keluarga akan menentukan jadwal pemakaman.
Andreas menambahkan, skema evakuasi dari Long Bawan berubah dari rencana awal. “Awalnya, jenazah akan langsung dibawa dari Krayan ke Balikpapan, lalu ke Jakarta menggunakan MAF Pelita Air. Namun, pihak maskapai menilai lebih efektif langsung dari Tarakan ke Jakarta menggunakan Batik Air,” jelasnya.
Proses evakuasi sempat tertunda pagi tadi karena kondisi cuaca yang buruk di Long Bawan, dengan visibility hanya 500 meter dan base cloud sekitar 1.000 feet.
“Kami menunggu cuaca membaik, sehingga penerbangan dapat dilakukan dengan aman. Begitu visibility meningkat menjadi sekitar 4.500 meter, pesawat siap lepas landas dan sampai di Tarakan tanpa masalah,” tambah Andreas.
Sebelumnya, General Manager AirNav Indonesia Cabang Tarakan, Dheny Purwo Hariyanto, menyebut penerbangan pesawat PK-PAA berlangsung dalam status AFIS (Aerodrome Flight Information Service), dan keputusan terbang sepenuhnya berada di pilot in command.
Pilot Captain Hendrik sempat memberikan estimasi kedatangan di Malinau pukul 12.24 WITA dan di Tarakan pukul 13.15 WITA sebelum kontak hilang.
Andreas menegaskan, Angkatan Udara mendukung penuh evakuasi jenazah sejak awal, termasuk koordinasi dengan Basarnas, AirNav, maskapai, dan pihak terkait lainnya.
“Alhamdulillah, seluruh proses berjalan lancar tanpa kendala, sehingga jenazah dapat segera diterbangkan ke Jakarta,” ujarnya. (saf)










