TARAKAN, Headlinews.id– Ketersediaan tiket pesawat menuju Tarakan terpantau sangat terbatas hingga 10–11 April 2026 pada sejumlah rute utama dari Makassar dan Jakarta. Kondisi ini dipicu tingginya permintaan penumpang pasca arus balik Lebaran, yang membuat sebagian besar kursi penerbangan telah terisi.
Berdasarkan pantauan pada platform pemesanan daring Traveloka, Senin (6/4/2026) pukul 12.59 WITA, penerbangan rute Makassar–Tarakan terpantau kosong sejak Sabtu (4/4/2026) hingga Sabtu (11/4/2026). Ketersediaan tiket baru muncul pada Minggu (12/4/2026), namun dengan harga cukup tinggi dan durasi perjalanan yang panjang.
Untuk jadwal tersebut, tiket dibanderol Rp2.423.085 dengan rute transit di Balikpapan selama 11 jam, sehingga total waktu perjalanan mencapai sekitar 14 jam. Penerbangan berangkat pukul 19.30 WITA dan tiba di Tarakan pukul 09.50 WITA menggunakan maskapai Citilink yang dilanjutkan Super Air Jet.
Kondisi serupa juga terjadi pada Senin (13/4/2026), di mana penerbangan masih terbatas. Jadwal penerbangan mulai kembali normal pada Selasa (14/4/2026) dengan harga tiket sekitar Rp1.596.000 untuk durasi perjalanan sekitar tiga jam melalui transit Balikpapan.
Tidak hanya dari Makassar, penerbangan dari Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta juga mengalami kelangkaan. Tiket dilaporkan kosong hingga Jumat (10/4/2026).
Ketersediaan baru ditemukan pada Sabtu (11/4/2026), namun hanya untuk kelas bisnis dengan penerbangan langsung seharga Rp8.779.000. Sementara pada Minggu (12/4/2026), opsi penerbangan tersedia dengan durasi hingga 19 jam seharga Rp3.258.675 menggunakan kombinasi Citilink dan Super Air Jet, serta alternatif lain Rp3.513.900 dengan waktu transit sekitar empat jam di Balikpapan.
Penerbangan rute Jakarta–Tarakan kembali menunjukkan kondisi normal pada Selasa (14/4/2026), dengan harga tiket sekitar Rp2.484.400 untuk penerbangan langsung berdurasi sekitar dua jam.
Sementara itu, untuk rute Balikpapan–Tarakan, ketersediaan tiket relatif stabil dengan harga minimum sekitar Rp988.800.
Salah satu warga Tarakan, Yodi mengaku batal pulang kampung akibat sulitnya mendapatkan tiket. Ia awalnya merencanakan perjalanan pada Minggu, namun harus menunda karena seluruh jadwal telah penuh.
“Kemarin saya cek harga tiket untuk hari Jumat, terus saya cek lagi hari ini sudah kosong semua sampai Minggu depan. Tiket Pelni juga kosong sampai 12 April, makanya saya batal pulang, kemungkinan tunggu sampai minggu depan,” ujarnya.
Kepala Sub Bagian Kepegawaian dan Umum BLU UPBU Kelas I Utama Juwata Tarakan, Choirul Ichsan menjelaskan secara umum operasional penerbangan masih dalam kondisi normal, khususnya jika melihat data pada Maret 2026.
Namun, ia mengakui kekosongan tiket pada periode 3–9 April dipicu tingginya okupansi penumpang seiring arus balik Lebaran serta libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan hari besar keagamaan.
“Kondisi ini lebih karena tingkat keterisian penumpang yang penuh (full pax), sehingga ketersediaan kursi menjadi terbatas,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data operasional, jumlah pergerakan penerbangan masih berada pada kisaran normal, yakni sekitar 480 penerbangan per bulan.
Selain itu, periode tersebut juga bertepatan dengan libur panjang akhir pekan yang berkaitan dengan hari besar keagamaan, sehingga meningkatkan mobilitas masyarakat secara bersamaan dalam waktu yang relatif singkat.
“Traffic movement masih dalam kondisi normal, dengan rata-rata sekitar 480 penerbangan per bulan. Tingginya permintaan penumpang pada periode tersebut membuat ketersediaan kursi menjadi sangat terbatas,” jelasnya.
Ia menambahkan dari sisi operasional, tidak terdapat kendala berarti, termasuk terkait pasokan bahan bakar avtur yang tetap stabil. Lonjakan harga dan kelangkaan tiket lebih dipengaruhi oleh mekanisme pasar, khususnya tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan kapasitas kursi yang tersedia.
“Untuk harga avtur, sejauh ini tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi tersebut,” tegasnya. (saf)










