NUNUKAN, Headlinews.id – Sebanyak 3.555 hektare lahan rawa dan lahan kurang produktif di Nunukan telah dioptimalkan melalui program Optimasi Lahan (OPLAH) untuk mendukung produksi padi.
Ketua DKPP Provinsi Kalimantan Utara, Heri Rudiono menyebut program tersebut merupakan upaya peningkatan produktivitas lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Program Optimasi Lahan (OPLAH) ini merupakan upaya serius pemerintah untuk meningkatkan produktivitas lahan-lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.
Program yang dilaksanakan sepanjang 2025 tersebut mencakup berbagai pekerjaan fisik di lapangan, mulai dari pembangunan dan peninggian tanggul, perbaikan jaringan irigasi, hingga pembenahan pematang sawah.
Intervensi infrastruktur ini ditujukan untuk meningkatkan kesiapan lahan agar dapat diolah secara lebih intensif oleh petani.
“Pelaksanaan OPLAH juga melibatkan masyarakat setempat yang bekerja sama dengan unsur TNI. Pola kolaboratif ini memang kita lihat membantu mempercepat proses pekerjaan. Sekaligus juga membuka ruang partisipasi tenaga kerja lokal di sektor pertanian,” imbuhnya.
Hasil pelaksanaan program kemudian dibahas dalam rapat evaluasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Nunukan bersama pihak terkait beberapa waktu lalu.
Fokus pembahasan bergeser pada pemanfaatan lahan yang telah direvitalisasi agar benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan produksi.
Heri menekankan capaian fisik OPLAH harus diikuti penguatan aspek budidaya di tingkat petani agar hasil yang diharapkan dapat tercapai secara berkelanjutan.
“Yang paling penting sekarang adalah memastikan lahan yang sudah dioptimalkan ini bisa benar-benar dimanfaatkan secara maksimal oleh petani,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh pengelolaan air, pemilihan varietas, serta pendampingan teknis yang berkelanjutan.
“Kalau aspek budidaya tidak berjalan dengan baik, hasilnya tidak akan optimal meskipun infrastrukturnya sudah tersedia,” katanya.
Menurutnya, program ini juga menunjukkan bahwa lahan rawa dan lahan marginal memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
“Ini membuktikan bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif bisa menjadi sumber produksi baru,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan program, mengingat keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaannya di lapangan.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, penyuluh, dan masyarakat harus terus dijaga agar program ini tidak berhenti di tahap pembangunan saja,” ucapnya.
Tahap evaluasi disebut menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi kendala sekaligus memperbaiki pelaksanaan ke depan agar lebih efektif dan tepat sasaran.
“Evaluasi ini menjadi dasar untuk perbaikan, supaya setiap lahan yang sudah dioptimalkan benar-benar menghasilkan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah juga mengusulkan program cetak sawah rakyat pada 2026 dengan target 19 titik lokasi dan luasan sekitar 3.258 hektare. Program ini disiapkan sebagai lanjutan dari upaya intensifikasi yang telah berjalan.
“Kalau OPLAH berjalan dan cetak sawah baru terealisasi, peningkatan produksi padi di Nunukan sangat mungkin terjadi. Ini bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan daerah,” pungkasnya. (*/saf)







