NUNUKAN, Headlinews.id – Akses keluar yang terbatas di SMP Negeri 1 Nunukan menjadi catatan Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Muhammad Mansur, setelah memantau simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana, Rabu (21/10/2026).
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pergerakan siswa ketika evakuasi dilakukan secara bersamaan.
Mansur menilai kesiapan sekolah menghadapi keadaan darurat tidak cukup diukur dari pelaksanaan latihan. Kondisi fisik jalur penyelamatan juga menjadi faktor yang menentukan kelancaran proses evakuasi, terutama ketika ratusan siswa harus meninggalkan gedung dalam waktu bersamaan.
“Kalau seluruh siswa keluar pada waktu yang sama, jalur yang sempit bisa membuat mereka berdesakan. Kondisi akses ini perlu dievaluasi supaya pergerakan siswa saat evakuasi lebih aman dan tertib,” ujar Mansur.
Ia mengusulkan evaluasi terhadap akses keluar sekolah, termasuk kemungkinan memperlebar jalur yang digunakan untuk evakuasi. Penyesuaian pada bagian lantai yang dinilai menghambat pergerakan siswa juga dapat dipertimbangkan agar proses keluar dari gedung berlangsung lebih lancar.
“Jangan sampai jalur evakuasi hanya tersedia secara fisik, tetapi belum mampu menampung pergerakan siswa dalam jumlah besar. Karena itu, lebar akses dan kondisi lantai perlu dilihat kembali,” katanya.
Menurut Mansur, pembenahan tersebut berkaitan langsung dengan kesiapan lingkungan sekolah dalam menghadapi situasi darurat. Akses yang memadai akan membantu siswa bergerak menuju area aman tanpa terhambat kondisi fisik bangunan.
“Keselamatan siswa harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap evaluasi fasilitas sekolah. Jalur evakuasi harus benar-benar mudah digunakan dan tidak menimbulkan hambatan tambahan,” ujarnya.
Catatan itu disampaikan setelah Mansur memantau pelaksanaan simulasi kebencanaan di SMPN 1 Nunukan. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 800 siswa dan guru sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan.
Mansur menilai hasil pemantauan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah untuk mengidentifikasi bagian fasilitas yang masih membutuhkan pembenahan. Dengan begitu, penanganan terhadap potensi hambatan dapat diarahkan pada kondisi nyata di lingkungan sekolah.
“Jalur keluar ini menjadi bagian yang harus dievaluasi dari hasil pemantauan. Aksesnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan pergerakan seluruh siswa, sehingga ketika terjadi keadaan darurat, proses evakuasi bisa berlangsung lebih tertib,” tutupnya. (*)










