BANDA ACEH, Headlinews.id – Empat mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) melaju ke babak final ANTAM Hackathon 2026 – Young Mining Innovators dengan membawa MineVerse, platform digital yang dirancang untuk mengolah data pertambangan menjadi dasar pengambilan keputusan operasional.
Tim tersebut beranggotakan Muhammad Iqbal, Rafi Abimanyu, dan Putro Nuriza dari Teknik Pertambangan angkatan 2022, serta Yulli Erisna dari Informatika angkatan 2023. Kolaborasi dua disiplin tersebut menjadi dasar pengembangan MineVerse untuk menjawab kebutuhan pengelolaan data industri pertambangan.
MineVerse berangkat dari persoalan banyaknya informasi yang harus dikelola dalam kegiatan pertambangan. Tim mengembangkan sistem yang mengintegrasikan data dari berbagai aspek sehingga informasi dapat dibaca lebih cepat dan digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan.
Platform berbasis Progressive Web Application (PWA) tersebut dirancang sebagai Single Source of Truth pada level manajerial tambang. MineVerse menggabungkan enam komponen, yakni Artificial Intelligence (AI), Geographic Information System (GIS), Data Analytics, Safety, Risk Management, serta Environmental, Social, and Governance (ESG).
Data operasional yang masuk ke dalam sistem kemudian diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk membaca kondisi tambang. Platform ini mencakup analisis berbasis AI, pemantauan keselamatan dan kesehatan kerja, kondisi peralatan, kegiatan operasional, hingga aspek lingkungan dan sosial.
“Gagasan awalnya berangkat dari bagaimana data yang sangat banyak di pertambangan bisa disatukan dan tidak berhenti sebagai data saja. Kami mencoba membuatnya menjadi informasi yang bisa membantu manajemen mengambil keputusan,” kata Muhammad Iqbal.
Pengembangan MineVerse juga menuntut anggota tim menggabungkan perspektif teknis pertambangan dengan kemampuan pengolahan teknologi. Perbedaan latar belakang digunakan untuk membagi kebutuhan pengembangan platform sesuai kompetensi masing-masing.
“Teman-teman dari pertambangan membawa pemahaman tentang proses dan persoalan di lapangan, sedangkan dari informatika membantu menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam sistem. Dari situ MineVerse dikembangkan sebagai satu platform yang saling terhubung,” ujarnya.
Perjalanan menuju final berlangsung melalui rangkaian seleksi ANTAM Hackathon 2026. Tim mahasiswa USK bersaing dengan puluhan tim sebelum masuk ke babak akhir. Pada tahap final, MineVerse dipresentasikan secara daring di hadapan panelis dari PT ANTAM Tbk.
Dosen Teknik Pertambangan USK sekaligus pembimbing tim, Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc., mengatakan capaian tersebut merupakan bagian dari proses mahasiswa menerapkan pengetahuan akademik pada persoalan industri.
“Paling penting dari proses ini adalah mereka belajar mengidentifikasi masalah, menyusun solusi, bekerja lintas disiplin, menerima kritik, lalu memperbaiki gagasannya sampai menjadi sebuah inovasi yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Febi.
Febi mengatakan mahasiswa perlu memahami kebutuhan pengguna ketika mengembangkan teknologi untuk industri. Kemampuan tersebut menjadi bekal ketika mereka berhadapan dengan persoalan operasional dan standar perusahaan.
“Inovasi harus berangkat dari persoalan yang jelas. Harus ada pengguna yang dituju, sistem yang bisa bekerja, serta manfaat yang bisa diukur ketika solusi tersebut diterapkan. Proses itulah yang mereka pelajari selama mengikuti kompetisi,” ujarnya.
Pengalaman mempresentasikan MineVerse di hadapan panelis dari industri juga menjadi bagian dari proses pengujian gagasan. Mahasiswa dituntut menjelaskan cara kerja sistem, pemanfaatan data, serta relevansinya dengan kebutuhan pertambangan.
“Ketika mereka berhadapan dengan panelis industri, mereka harus mampu menjelaskan mengapa solusi ini dibutuhkan, bagaimana datanya digunakan, dan bagaimana keputusan bisa dihasilkan. Pengalaman seperti ini memberi gambaran mengenai standar yang harus dipenuhi sebuah inovasi,” tuturnya.
Babak final juga membuka peluang pengembangan karier bagi peserta. Kompetisi tersebut menyediakan kesempatan magang di PT ANTAM Tbk bagi pemenang sesuai ketentuan yang berlaku.
Capaian MineVerse menunjukkan mahasiswa USK mulai mengembangkan kompetensi yang memadukan pengetahuan pertambangan dengan teknologi digital. Penguasaan data, AI, dan sistem informasi menjadi bagian dari kebutuhan industri pertambangan yang terus berkembang.
“Pertambangan ke depan membutuhkan orang yang memahami batuan, alat dan produksi sekaligus mampu membaca data dan memahami teknologi. Kalau kemampuan itu dipadukan, mahasiswa akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi kebutuhan industri,” pungkas Febi.(*/saf)







