TENGGARONG, Headlinews.id – Tradisi Bapelas kembali digelar dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, Selasa (22/9/2026) malam. Prosesi pada malam ketiga tersebut menjadi bagian dari rangkaian adat yang masih dipertahankan dalam pelaksanaan Erau di Kutai Kartanegara.
Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara Junadi, A.Md., yang menghadiri prosesi tersebut mengatakan keberlangsungan tradisi seperti Bapelas bergantung pada pengetahuan generasi berikutnya terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, kegiatan adat perlu terus dikenalkan agar tidak berhenti sebagai rangkaian seremoni tahunan.
“Bapelas ini punya cerita dan nilai yang panjang dalam budaya Kutai. Generasi muda perlu mengetahui apa yang ada di balik prosesi ini, bukan hanya melihat rangkaiannya ketika Erau berlangsung. Kalau mereka memahami maknanya, akan lebih mudah bagi mereka untuk ikut menjaga tradisi tersebut,” kata Junadi.
Bapelas merupakan bagian dari tradisi dalam rangkaian Erau Adat Kutai. Pelaksanaannya memperlihatkan keberadaan adat yang masih dijalankan di tengah perkembangan kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.
Junadi mengatakan perubahan zaman tidak harus membuat tradisi lokal ditinggalkan. Perkembangan daerah, menurutnya, dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Kutai.
“Perkembangan daerah pasti terus berjalan, tetapi sejarah dan budaya juga perlu tetap dikenal. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui nama tradisinya, sementara cerita dan nilai yang ada di dalamnya sudah tidak dipahami lagi,” ujarnya.
Kehadiran masyarakat dalam rangkaian Erau juga membuka kesempatan untuk mengenal berbagai tradisi Kutai secara langsung. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kebudayaan daerah kepada pengunjung, termasuk masyarakat dari luar Kutai Kartanegara.
Selain sisi kebudayaan, rangkaian Erau memiliki kaitan dengan aktivitas pariwisata daerah. Pelaksanaan kegiatan adat yang konsisten dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah dan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara.
“Erau punya daya tarik dari sisi budaya dan sejarah. Kalau dikemas dengan baik dan masyarakat terus terlibat, orang yang datang ke Kukar bisa melihat langsung tradisi yang masih hidup. Itu juga bisa memperkenalkan daerah kita lebih luas,” pungkas Junadi. (*)








