TARAKAN, Headlinews.id – Kehilangan komponen sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) masih terjadi di wilayah perairan Kalimantan Utara. Aki, lampu navigasi hingga solar cell dilaporkan hilang dari sejumlah fasilitas yang dikelola Distrik Navigasi Tipe A Kelas III Tarakan. Sepanjang 2024, tercatat 11 laporan kehilangan, kemudian satu laporan pada 2025.
Mewakili Kepala Distrik Navigasi Kelas III Tipe A Tarakan, Kasubag TU Kantor Distrik Navigasi Kelas III Tipe A Tarakan, Dalmon, mengatakan kejadian kehilangan komponen berlangsung dari tahun ke tahun. Jumlah laporan pada 2025 memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga wawancara dilakukan pada September 2026, pihaknya belum menerima laporan kehilangan baru.
“Kalau setiap tahun kayaknya ada kasus. Tahun 2024 itu ada 11 kasus, kemudian 2025 satu laporan kehilangan. Kalau 2026 ini sepertinya belum ada. Jadi yang cukup banyak memang pada 2024,” ujar Dalmon.
Komponen yang paling sering dilaporkan hilang meliputi aki, lampu dan solar cell. Salah satu kejadian tercatat di sekitar Pulau Sadau. Dalam peristiwa tersebut, aki dan lampu navigasi dilaporkan hilang. Pihak Navigasi telah menyampaikan laporan kepada kepolisian setelah berkoordinasi dengan Polairud.
“Kami sudah laporkan ke Polres. Sebelumnya kami juga sempat lapor ke Polairud dan diarahkan ke Polres. Sampai sekarang perkembangannya belum ada berita kepada kami, termasuk apakah sudah ada temuan atau belum,” ungkap Dalmon.
Kendala utama dalam mengungkap kehilangan komponen tersebut terletak pada lokasi fasilitas yang tersebar di perairan. Petugas tidak mengetahui secara langsung kapan dan siapa yang mengambil perangkat. Pemeriksaan biasanya dilakukan setelah ada laporan lampu navigasi padam.
“Kadang ada laporan, ‘Pak, lampunya padam.’ Kami datang cek, ternyata akinya sudah tidak ada, lampunya juga hilang, kemudian solar cell-nya tidak ada. Kalau kami tahu siapa yang mengambil tentu bisa ditindaklanjuti, tetapi di lokasi laut seperti itu memang sulit mengetahui kejadiannya,” kata Dalmon.
Pengawasan pergerakan kapal memang dapat dilakukan melalui Vessel Traffic Service (VTS). Namun, pemantauan tersebut tidak serta-merta membuat petugas bisa mengetahui hilangnya komponen pada setiap fasilitas SBNP. Ketiadaan kamera pengawas di lokasi turut menyulitkan proses identifikasi, berbeda dengan kawasan darat yang dapat didukung rekaman CCTV maupun pemeriksaan jejak lainnya.
Dalmon menjelaskan, Distrik Navigasi Tarakan mengelola sejumlah fasilitas SBNP yang tersebar mulai dari Sebatik, Nunukan hingga perbatasan Kalimantan Timur. Rinciannya meliputi empat menara suar, 53 rambu suar dan 32 pelampung suar. Khusus alur masuk Pelabuhan Tarakan, terdapat sembilan pelampung suar dengan jarak pemasangan sekitar empat hingga lima mil laut, serta satu tanda siang.
Kehilangan perangkat tersebut juga menimbulkan beban biaya penggantian. Aki yang digunakan untuk menunjang lampu navigasi memiliki spesifikasi berbeda berdasarkan voltase. Dalmon menyebut harga aki paling rendah mencapai sekitar Rp40 juta. Sementara lampu navigasi juga memiliki spesifikasi khusus dan tidak bisa diganti menggunakan produk sembarangan.
“Aki itu tergantung voltasenya, paling rendah sekitar Rp40 juta. Lampu juga macam-macam spesifikasinya karena produsennya berbeda. Kita membeli produk dari luar dan penggunaannya memang harus sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan,” jelasnya.
Perangkat penerangan SBNP memiliki standar teknis tersendiri, termasuk mengacu pada ketentuan International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities (IALA). Penggantian komponen harus disesuaikan dengan spesifikasi fasilitas agar fungsi navigasi tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Selain biaya, proses penggantian juga membutuhkan tahapan administrasi dan pengadaan. Distrik Navigasi terlebih dahulu mengidentifikasi fasilitas yang membutuhkan perbaikan atau penggantian, kemudian memasukkannya dalam perencanaan sebelum pengadaan dilaksanakan.
“Kami mulai dari perencanaan dulu. Mana yang mau dipasang atau perlu diganti itu kami rencanakan, baru setelah itu masuk pengadaan. Makanya kalau ada barang yang hilang, proses menggantinya memang membutuhkan tahapan,” kata Dalmon.
Ia menyebut pola kehilangan di Kaltara lebih sering menyasar aki, lampu dan solar cell. Dalmon menduga komponen tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan kapal nelayan maupun aktivitas tambak yang menggunakan aki dan perangkat tenaga surya. Namun, dugaan tersebut belum disertai informasi mengenai pihak yang mengambil maupun tujuan penggunaan komponen yang hilang.
Gangguan pada perangkat SBNP berpotensi memengaruhi fungsi fasilitas navigasi, terutama ketika lampu tidak lagi beroperasi. Padahal, keberadaan rambu dan tanda navigasi membantu nakhoda menentukan posisi serta haluan kapal, mengenali bahaya atau rintangan di laut, dan memastikan kapal tetap berada pada alur pelayaran yang aman.
“Fungsi SBNP ini sangat vital untuk keselamatan pelayaran. Dia membantu kelancaran arus lalu lintas di laut. Fasilitasnya harus tetap ada dan berfungsi sebagaimana mestinya,” pungkas Dalmon. (saf)







