BALIKPAPAN, Headlinews.id – Sekitar 850 orang dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan dan masyarakat berkumpul di halaman Makodam VI/Mulawarman, Sabtu (29/8/2026) pagi. Mereka mengikuti Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau yang berdampak pada sejumlah wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Salat dimulai pukul 06.56 WITA. Peserta tampak mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk. Sejumlah unsur yang hadir di antaranya Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan, Wakapolda Kaltim Brigjen Pol. Adrianto Jossy Kusumo, serta jajaran TNI-Polri dan unsur terkait.
Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono mengatakan Salat Istisqa dilakukan ketika masyarakat menghadapi kondisi kemarau dan membutuhkan hujan. Ia mengajak jamaah menjadikan keadaan tersebut sebagai bahan introspeksi sekaligus memperbanyak doa.
“Kita berkumpul pagi ini karena sedang menghadapi kemarau. Kita berdoa dan memohon kepada Allah agar hujan segera turun, tetapi pada saat yang sama kita juga perlu melihat kembali apa yang bisa kita perbaiki dalam kehidupan kita,” ujar Krido.
Kemarau panjang berdampak pada kebutuhan air masyarakat. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika aktivitas masyarakat tidak disertai kewaspadaan terhadap sumber api.
Krido menyebut penanganan karhutla tetap membutuhkan kerja personel di lapangan. Ia mengapresiasi prajurit, kepolisian, relawan dan unsur lainnya yang terlibat dalam penanganan kebakaran di sejumlah wilayah.
“Teman-teman kita di lapangan terus bekerja ketika ada karhutla. Kondisi ini tentu tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja, sehingga masyarakat juga perlu ikut menjaga lingkungan dan menghindari kegiatan yang bisa memicu kebakaran,” katanya.
Imbauan juga diarahkan kepada masyarakat yang masih membuka lahan. Pangdam meminta aktivitas tersebut tidak menggunakan cara pembakaran karena dapat memperbesar risiko kebakaran saat kondisi lahan kering.
“Kalau membuka lahan, jangan menggunakan api. Saat kemarau seperti sekarang, api mudah sekali menyebar dan dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas,” tegasnya.
Salat Istisqa dipimpin Ustadz H. Khoirul Fatoni, S.Pd. Sementara khotbah disampaikan Ustadz H. Irfanuddin Hashim, S.Sos. Dalam khotbahnya, ia mengingatkan jamaah agar tetap berdoa dan bersabar ketika menghadapi kondisi yang belum sesuai harapan.
Irfanuddin juga mengangkat kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA saat masyarakat Madinah mengalami kemarau panjang. Kisah tersebut dikaitkan dengan pentingnya memperbanyak doa dan memperkuat tawakal.
“Hujan adalah kehendak Allah. Kalau hujan turun setelah kita berdoa, kita menerima itu sebagai rahmat-Nya. Kalau belum turun, kita tetap berdoa, terus berusaha dan menjaga kesabaran,” ucap Irfanuddin.
Kegiatan Salat Istisqa ini diikuti berbagai unsur masyarakat dan berlangsung bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Doa yang dipanjatkan juga mencakup keselamatan masyarakat serta perlindungan dari kekeringan dan karhutla.
Krido kembali mengingatkan bahwa doa perlu berjalan bersama dengan tindakan nyata masyarakat dalam menghadapi kemarau. Menurutnya, menjaga lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama selama kondisi kering masih berlangsung.
“Kita berdoa agar hujan segera turun, tetapi jangan lupa ikhtiar di lapangan. Jaga lingkungan, hemat air, jangan membakar lahan dan segera laporkan kalau melihat potensi kebakaran. Itu yang bisa kita lakukan bersama sambil menunggu hujan dari Allah,” pungkas Krido. (saf)










