TARAKAN, Headlinews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan menetapkan tingkat kerusakan rumah warga akibat tanah longsor Jalan Sebengkok Tiram di RT 05, Kelurahan Lingkas Ujung, masuk kategori cukup dengan estimasi kerusakan mencapai 60 persen. Penanganan darurat langsung dilakukan guna mencegah longsor susulan.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan pihaknya telah menyelesaikan asesmen awal terhadap rumah milik Salmah setelah menerima laporan kejadian.
Hasil penilaian menunjukkan kerusakan dominan terjadi pada bagian belakang bangunan.
“Prosedurnya asesmen dulu, baru pemberian bantuan. Dari hasil asesmen, kerusakannya masuk kategori cukup, sekitar 60 persen,” ujar Yonsep, Kamis (9/4/2026).
Sebagai langkah mitigasi awal, BPBD menyalurkan bantuan karung dan terpal untuk menahan pergerakan tanah serta mengurangi risiko longsor lanjutan yang dapat mengancam struktur bangunan utama.
Yonsep menjelaskan, kewenangan BPBD terbatas pada penanganan tanggap darurat. Sementara perbaikan permanen nantinya menjadi tanggung jawab instansi teknis terkait.
“Kalau penanganan permanen itu ranah Dinas Perkim. Kami fokus pada penanganan awal saat kejadian dan pengamanan sementara di lapangan,” jelasnya.
Meski struktur rumah berbahan kayu tersebut masih dinilai layak ditempati karena kerusakan hanya terjadi di area dapur, BPBD tetap mengimbau penghuni untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras.
“Secara kondisi masih bisa ditempati, tapi kalau hujan dengan intensitas tinggi disarankan segera keluar demi keselamatan. Risiko lanjutan tetap ada,” tegasnya.
Ia menambahkan, lokasi permukiman yang berada di lereng dengan kepadatan rumah tinggi berpotensi memperbesar dampak apabila terjadi longsoran susulan.
“Kalau terjadi longsor lagi tentu bisa berdampak ke rumah lain karena ini kawasan padat di lereng,” katanya.
Terkait kondisi cuaca, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski wilayah Tarakan diperkirakan memasuki periode relatif kering. Hujan lokal dengan durasi panjang masih berpotensi terjadi.
“Cuaca di Tarakan sulit diprediksi. Kadang hujan hanya di satu wilayah tapi berlangsung lama, sehingga masyarakat tetap harus waspada,” ujar Yonsep.
Lebih lanjut, ia mengakui relokasi warga dari kawasan rawan longsor kerap menghadapi kendala sosial dan ekonomi. Banyak warga telah lama menetap dan membangun rumah secara bertahap sehingga sulit untuk pindah.
“Faktor ekonomi menjadi kendala utama. Membangun rumah membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan ada yang melalui kredit. Tapi kami tetap mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas,” pungkasnya. (saf)










