TARAKAN, Headlinews.id – Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan memasuki fase penguatan layanan. Hingga Februari 2026, sebanyak 21 dapur telah aktif beroperasi dengan cakupan penerima manfaat mencapai sekitar 46 ribu orang.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tarakan, Dewi menjelaskan sasaran program tidak hanya peserta didik, tetapi juga kelompok rentan yang masuk kategori 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, serta tenaga pendidik di sekolah yang menjadi lokasi layanan.
“Data terakhir menunjukkan kurang lebih 46 ribu penerima manfaat telah terlayani. Jumlah tersebut tersebar sesuai area kerja masing-masing dapur,” ujarnya.
Pada tahap awal, satu dapur dirancang melayani sekitar 1.000 penerima manfaat. Kapasitas tersebut bersifat dinamis dan dapat ditingkatkan apabila kesiapan fasilitas serta sumber daya manusia telah memenuhi standar operasional.
“Secara bertahap kapasitas bisa ditambah. Penyesuaian dilakukan setelah sarana pendukung dan tim pelaksana benar-benar siap,” kata Dewi.
Meski jumlah penerima manfaat terus bertambah, sejumlah sekolah di Tarakan belum sepenuhnya terjangkau. Keterbatasan daya tampung dapur menjadi faktor utama yang memengaruhi distribusi layanan.
“Beberapa sekolah memang belum terlayani maksimal. Hal ini berkaitan dengan kapasitas dapur yang masih dalam tahap pengembangan,” jelasnya.
Penambahan dapur baru dinilai memungkinkan, namun pelaksanaannya masih menunggu pemenuhan tenaga ahli gizi yang menjadi syarat utama operasional.
“Kehadiran ahli gizi sangat penting untuk memastikan standar terpenuhi. Beberapa dapur sedang dalam proses melengkapi persyaratan tersebut,” tambahnya.
Pendataan penerima manfaat dilakukan berbasis wilayah. Setiap dapur melayani sejumlah sekolah di sekitarnya, termasuk pendataan guru sesuai data resmi sekolah.
Untuk kelompok ibu hamil dan menyusui, koordinasi dilakukan bersama Dinas Kesehatan, BKKBN, dan kader lapangan guna memastikan akurasi data.
“Data kelompok 3B dihimpun melalui kerja sama lintas sektor agar sesuai dengan kondisi di lapangan,” ungkap Dewi.
Aspek kualitas makanan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG. Setiap menu yang disajikan wajib memenuhi standar kecukupan gizi yang dihitung oleh tenaga profesional.
“Perhitungan nilai gizi dilakukan oleh ahli agar kandungan nutrisi sesuai kebutuhan penerima manfaat,” tegasnya.
Sementara itu, wilayah pesisir seperti Mamburungan masih berada dalam tahap persiapan layanan. Sejumlah dapur telah mengajukan operasional, namun belum seluruhnya aktif.
Berdasarkan petunjuk teknis terbaru, satu dapur idealnya mampu melayani hingga 3.000 penerima manfaat.
“Kalau di Tarakan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing dapur, supaya distribusi tetap efektif dan tepat sasaran,” tandasnya.
Perluasan bertahap diharapkan mampu menjangkau seluruh sekolah dan kelompok sasaran di Kota Tarakan dalam waktu mendatang. (saf)










