TARAKAN, Headlinews.id – Meski masa puncak arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah telah berlalu, tingkat keterisian pesawat menuju Kota Tarakan, Kalimantan Utara, masih terpantau sangat tinggi.
Hingga saat ini, ketersediaan tiket dari berbagai kota besar menuju Bandara Juwata dilaporkan masih habis terjual (full booked) untuk beberapa hari ke depan.
Plt Airport Manager Lion Group Station Tarakan, Faikar Musanti mengonfirmasi tingginya load factor atau tingkat keterisian penumpang masih terjadi pada rute masuk ke Tarakan.
Kondisi ini menunjukkan arus balik belum sepenuhnya mereda, dengan sebagian masyarakat masih melakukan perjalanan kembali ke daerah tujuan.
“Untuk masuk ke Tarakan memang lagi penuh. Sampai tanggal 10 April itu masih padat, bahkan tanggal 11 dan 12 April dari Makassar dan Surabaya ke Tarakan juga terpantau sudah habis,” ujar Faikar, Senin (6/4/2026).
Padatnya keterisian kursi pesawat pada periode pasca-arus balik ini berdampak pada terbatasnya pilihan jadwal penerbangan bagi calon penumpang. Situasi tersebut juga mendorong sistem pemesanan daring menampilkan rute-rute alternatif yang tidak langsung.
Kondisi itu kemudian memicu munculnya harga tiket yang melambung tinggi di berbagai aplikasi pemesanan, seiring terbatasnya kursi pada penerbangan langsung. Harga yang muncul umumnya merupakan hasil kombinasi rute transit dengan durasi perjalanan yang lebih panjang.
Faikar membenarkan adanya harga tiket yang menyentuh angka hingga Rp11 juta. Namun, ia menegaskan angka tersebut bukan merupakan tarif normal yang ditetapkan maskapai, melainkan akumulasi dari rute transit yang panjang serta perbedaan kelas layanan.
“Tadi sempat saya cek ada yang sampai Rp11 juta, tapi itu mungkin untuk kelas bisnis dan rute transit yang panjang. Sebagai gambaran, rute langsung Jakarta–Tarakan untuk kelas bisnis saja normalnya berada di kisaran Rp8,8 juta,” jelasnya.
Menurutnya, lonjakan harga hingga belasan juta rupiah itu terjadi secara otomatis dalam sistem ketika kursi pada penerbangan langsung, khususnya kelas ekonomi, telah habis terjual. Akibatnya, sistem hanya menawarkan opsi perjalanan dengan rute memutar yang melibatkan beberapa kali transit.
Pihak maskapai memperkirakan kepadatan penumpang pada periode pasca-Lebaran ini masih akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan April, seiring masih tingginya mobilitas masyarakat yang kembali dari kampung halaman.
“Kemungkinan besar arus ini akan melandai atau kembali normal pada tanggal 14 April 2026 mendatang,” tambah Faikar.
Mengenai kebijakan operasional, Faikar menyebutkan saat ini sudah tidak ada lagi layanan penerbangan tambahan (extra flight).
“Sebelumnya, kita juga sudah menambah frekuensi penerbangan pada rute Balikpapan–Tarakan (pulang-pergi) hingga 31 Maret untuk mengantisipasi lonjakan awal arus mudik dan arus balik,” ungkapnya.
Saat ini, Lion Group di Station Tarakan tetap mengoperasikan 10 pergerakan pesawat setiap harinya, yang terdiri dari lima kedatangan dan lima keberangkatan. Rute yang dilayani meliputi Balikpapan, Surabaya, dan Jakarta.
Armada yang digunakan terdiri dari berbagai tipe pesawat dengan kapasitas berbeda, mulai dari Super Air Jet berkapasitas 180 kursi, Lion Air 189 kursi, hingga Batik Air tipe Airbus.
“Untuk Batik Air menyediakan 156 kursi, yang terdiri dari 12 kursi kelas bisnis dan 144 kursi kelas ekonomi,” pungkas Faikar. (saf)










