TARAKAN, Headlinews.id – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tarakan tahun ini dipastikan berlangsung tanpa aksi demonstrasi. Sekitar 2.500 pekerja dari berbagai serikat akan merayakannya melalui kegiatan jalan santai, meski sejumlah isu ketenagakerjaan dinilai masih menjadi perhatian.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Tarakan, Agus Sutanto mengatakan konsep peringatan May Day sengaja diarahkan pada kegiatan yang bersifat kebersamaan dan kolaboratif, dengan melibatkan pekerja, pengusaha, serta pemerintah.
“Alhamdulillah kegiatannya positif, karena memang berupa jalan santai. Tidak ada aksi-aksi seperti demonstrasi. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan pada kebersamaan, sehingga pekerja, pengusaha, dan pemerintah dapat berkumpul dalam suasana yang kondusif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta berasal dari sejumlah serikat pekerja, di antaranya FKUI dan KSBSI Tarakan, FSM Kahut, Kahutindo, serta organisasi pekerja lainnya. Selain fun walk, rangkaian kegiatan juga diisi dengan senam bersama dan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi peserta.
Menurut Agus, pendekatan ini dipilih untuk menjaga suasana tetap kondusif sekaligus memperkuat hubungan antar pemangku kepentingan di sektor ketenagakerjaan.
“Kegiatan ini didesain untuk memperkuat kebersamaan dan komunikasi antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah, sehingga hubungan industrial di Tarakan tetap harmonis dan kondusif,” katanya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, turut berperan dalam memfasilitasi pelaksanaan kegiatan, mulai dari penyediaan lokasi, panggung, hingga konsumsi peserta. Selain itu, berbagai pihak juga memberikan dukungan dalam bentuk doorprize.
“Doorprize berasal dari BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, serta sejumlah perusahaan. Ada yang dalam bentuk natura dan ada juga dalam bentuk uang yang kemudian diwujudkan menjadi barang. Ini merupakan bentuk partisipasi bersama dalam menyukseskan kegiatan,” jelasnya.
Beragam hadiah disiapkan untuk peserta, seperti sepeda, kulkas, mesin cuci, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya. Total hadiah yang disediakan mencapai hampir 200 item yang dibagikan melalui kupon yang telah didistribusikan kepada peserta melalui masing-masing serikat.
Meski peringatan May Day di Tarakan berlangsung tanpa aksi unjuk rasa, Agus tidak menampik sejumlah persoalan ketenagakerjaan masih kerap muncul setiap tahunnya. Isu yang paling sering disuarakan berkaitan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan kebebasan berserikat.
“Isu-isu itu memang setiap tahun muncul, terutama terkait PKWT dan kebebasan berserikat. Secara regulasi sebenarnya sudah jelas diatur oleh pemerintah pusat, tetapi dalam praktik di lapangan kadang masih ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, tantangan utama bukan lagi pada aturan, melainkan pada implementasi di tingkat perusahaan yang masih perlu pengawasan lebih ketat.
“Dari sisi regulasi sudah cukup baik dan jelas. Namun dalam pelaksanaan masih terdapat penyimpangan. Kondisi ini memerlukan pembinaan dan pengawasan agar hak-hak pekerja tetap terpenuhi sesuai aturan,” tegasnya.
Terkait PKWT, Agus menjelaskan sistem kontrak kerja tersebut diperbolehkan dalam ketentuan yang berlaku, termasuk dalam skema hubungan kerja tertentu dengan pihak ketiga, selama tidak menyimpang dari regulasi.
Sementara itu, kebebasan berserikat disebutnya sebagai hak dasar pekerja yang tidak dapat dibatasi.
“Kebebasan berserikat merupakan hak asasi setiap warga negara yang dijamin undang-undang, sehingga tidak boleh ada pembatasan selama dijalankan sesuai ketentuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum May Day menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan industrial yang kondusif dan penyelesaian persoalan ketenagakerjaan yang masih berkembang.
“Momentum May Day ini menjadi ruang refleksi bersama. Hubungan industrial perlu tetap kondusif, dan persoalan ketenagakerjaan yang masih ada harus diselesaikan melalui komunikasi, pembinaan, dan pengawasan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (saf)







