TARAKAN, Headlinews.id – Tanah longsor kembali menerjang kawasan permukiman padat di Kota Tarakan. Sebuah rumah warga di Jalan Sebengkok Tiram, Gang Nuri RT 05 Nomor 104, Kelurahan Lingkas Ujung, mengalami kerusakan berat setelah material tanah dari lereng bukit runtuh pada Kamis (9/4/2026) pagi.
Rumah tersebut milik Salmah (65), saat kejadian korban berada di dapur dan nyaris tertimbun longsoran tanah yang menghancurkan bagian belakang rumahnya.
Salmah menuturkan dirinya sedang mencuci piring seperti biasa ketika tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang rumah.
Ia mengira suara itu berasal dari hewan liar lantaran monyet sering terlihat melintas dan melompat di sekitar tangki air warga.
Ia mengaku tidak menaruh curiga karena suara tersebut terdengar sama seperti aktivitas monyet yang kerap bermain di atap rumah.
Bahkan ia tetap melanjutkan pekerjaan rumah tangga tanpa menyadari bahaya yang sedang terjadi.
“Waktu itu saya lagi cuci piring di dapur. Tiba-tiba ada bunyi gaduh sekali di atas seng, keras sekali. Saya pikir monyet-monyet yang biasa loncat di tangki air belakang rumah, jadi saya tidak curiga apa-apa dan tetap lanjut kerja,” ujar Salmah.
Situasi berubah ketika Ketua RT setempat datang berlari sambil berteriak memperingatkan bagian belakang rumahnya terkena longsor.
Ia mengaku sempat bingung dan tidak menyangka, suara yang didengarnya sebelumnya berasal dari tanah yang mulai runtuh.
Ia kemudian bergegas menuju belakang rumah untuk memastikan kondisi dapur.
Saat melihat langsung dampaknya, ia sangat terkejut karena bangunan sudah tertimbun material tanah dalam jumlah besar.
“Pak RT teriak panggil saya dari luar, bilang rumah saya kena longsor. Saya langsung keluar dan pas lihat ke belakang, dapur sudah hancur, tanah masuk semua sampai penuh. Saya langsung gemetar karena tadi saya masih di situ,” tuturnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan dinding dapur jebol akibat tekanan tanah dari lereng bukit.
Material lumpur, batu, dan akar pohon menutup hampir seluruh bagian dapur serta merusak peralatan memasak milik korban.
Salmah menjelaskan wilayah rumahnya memang berada tepat di bawah bukit sehingga cukup rawan longsor.
Ia menyebut, sebelumnya pohon mangga besar pernah tumbang dan menimpa rumah akibat kondisi tanah yang labil.
Ia juga mengingat kejadian longsor serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika anaknya masih tinggal di rumah tersebut.
Menurutnya, setiap hujan deras turun, warga selalu diliputi kekhawatiran akan pergerakan tanah di belakang permukiman.
“Dulu juga pernah kejadian hampir sama, waktu anak saya masih tinggal di sini. Karena di belakang ini bukit, kalau hujan deras kami selalu takut. Ini sudah kedua kalinya dapur saya kena longsor,” katanya.
Meski selamat tanpa luka, Salmah mengaku kini merasa was-was untuk kembali menggunakan area belakang rumah.
Ia berharap ada perhatian pemerintah untuk melakukan penanganan lereng bukit, agar warga tidak terus hidup dalam ancaman longsor susulan.
“Takut juga kami kalau ada longsor lagi nanti, apalagi ini sudah berapa kali,” harapnya. (saf)










