TARAKAN, Headlinews.id – Pelaku ekonomi kreatif dari kalangan anak muda di Kalimantan Utara berpeluang mendapatkan pelatihan pengurusan kekayaan intelektual hingga fasilitasi pendaftaran gratis dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Program tersebut disiapkan untuk membantu kreator mengembangkan karya sekaligus membuka peluang ekonomi dari talenta yang mereka miliki.
Anggota Komisi VII DPR RI, Rahmawati Zainal mengatakan program tersebut akan melibatkan Direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian Ekonomi Kreatif dan dikoordinasikan bersama Komisi VII DPR RI. Materi pelatihan mencakup pengurusan kekayaan intelektual serta pemanfaatan fotografi sebagai karya yang memiliki nilai ekonomi.
“Nanti ada pelatihan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, termasuk bagaimana mengurus kekayaan intelektual. Sekalian nanti ada pendaftaran gratis dari kementerian yang juga berkoordinasi dengan Komisi VII. Anak-anak muda juga diberikan pelatihan bagaimana sebuah foto bisa mengangkat ekonomi mereka, karena foto itu bisa bercerita dan mendatangkan uang,” ujarnya.
Rahmawati menjelaskan, sasaran program terutama generasi muda, termasuk anggota karang taruna, mahasiswa, dan mereka yang mulai merintis usaha. Menurut dia, setiap orang memiliki talenta yang dapat dikembangkan menjadi karya produktif apabila mendapat ruang dan pendampingan yang sesuai.
“Setiap orang pasti memiliki talenta. Saya berusaha menggali kemampuan mereka supaya kreativitasnya bisa keluar dan menjadi sesuatu yang mendatangkan ekonomi bagi mereka,” katanya.
Ia menilai Tarakan memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif karena ditopang keragaman budaya dan potensi lokal. Sejumlah subsektor seperti film, tarian, kebudayaan, dan kuliner dapat dikembangkan sesuai karakteristik daerah serta kemampuan masyarakatnya.
Perwakilan Senayan Dapil Kalimantan Utara ini juga melihat antusiasme peserta sebagai modal untuk memperluas pemahaman mengenai peluang ekonomi dari karya kreatif. Ia menyebut masih ada anggapan fotografi sebatas aktivitas mengambil gambar, padahal karya visual dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
“Selama ini mereka mungkin berpikir memotret itu tidak bisa mendatangkan uang. Padahal, kalau kita gali, berinovasi, dan berimprovisasi, itu bisa menjadi sebuah karya yang bernilai ekonomi. Foto juga bisa mendatangkan penghasilan,” tuturnya.
Untuk memperluas jangkauan program, Rahmawati menyebut sosialisasi dan pelatihan tidak hanya menyasar Tarakan. Kegiatan serupa telah dilakukan di Malinau dan Tanjung Selor, sementara Nunukan direncanakan menjadi lokasi berikutnya.
Menurut dia, materi dan pendekatan pelatihan akan disesuaikan dengan potensi setiap daerah. Perbedaan bahan baku, karakteristik wilayah, dan talenta masyarakat menjadi pertimbangan dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif setempat.
“Program ini berkelanjutan. Setelah daerah yang sudah didatangi, nanti mungkin dilanjutkan ke Nunukan. Materinya juga berbeda karena setiap kabupaten memiliki bahan baku dan potensi yang berbeda, begitu pula talenta masyarakatnya,” jelasnya.
Rahmawati berharap pengembangan ekonomi kreatif dapat membuka kesempatan kerja yang dibangun oleh generasi muda sendiri. Dengan kemampuan mengolah talenta menjadi produk atau jasa, anak muda dinilai memiliki peluang membangun usaha dan melibatkan orang lain dalam kegiatan produktif.
Ia mendorong generasi muda mulai membangun pola pikir sebagai pencipta lapangan kerja, bukan semata-mata mencari pekerjaan di perusahaan atau instansi pemerintah.
“Mudah-mudahan nanti kita melihat lapangan pekerjaan itu bisa diciptakan oleh anak-anak muda. Mereka tidak selalu bergantung pada perusahaan atau pemerintah, tetapi bisa membangun usaha sendiri dan mengajak teman-temannya berkolaborasi bekerja bersama. Dari sekarang mereka juga bisa belajar menjadi CEO,” pungkasnya. (saf)








