NUNUKAN, Headlinews.id – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, menyebabkan ruas Jalan Trans Kalimantan Utara ambruk hingga tak bisa dilalui kendaraan.
Peristiwa terjadi pada Selasa malam (7/4/2026) sekira pukul 22.00 WITA, saat hujan deras mengguyur kawasan perbukitan dalam durasi cukup lama.
Tekanan air yang terus meningkat membuat struktur tanah di bawah badan jalan melemah hingga akhirnya longsor.
Bagian jalan yang terdampak dilaporkan runtuh sepanjang sekitar 10 hingga 20 meter dengan kedalaman mencapai 1 hingga 2 meter.
Kondisi ini membuat jalur utama penghubung antarwilayah terputus total dan tidak dapat dilalui kendaraan dari kedua arah.
Dampak langsung dirasakan pada mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Jalur tersebut selama ini menjadi penghubung penting dari wilayah Sebuku dan Tulin Onsoi menuju Sei Manggaris, Sei Ular hingga akses darat ke Kalimantan Timur.
Kapolsek Sebuku IPTU Riyanto mengatakan, penanganan darurat langsung dilakukan mengingat pentingnya jalur tersebut bagi aktivitas ekonomi dan transportasi warga.
“Begitu ada laporan, kami langsung ke lokasi. Kondisinya memang tidak bisa dilalui sama sekali, jadi langkah pertama yang kami lakukan adalah membuka akses darurat,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Upaya pembukaan jalur dilakukan dengan memanfaatkan sisi jalan yang masih tersisa. Material tanah dan batu ditimbun secara manual untuk membentuk jalur alternatif sementara.
Sejumlah pihak terlibat dalam penanganan tersebut, mulai dari aparat kepolisian, pemerintah kecamatan, hingga masyarakat dan para pengemudi angkutan yang biasa melintas di jalur tersebut.
“Semua bergerak bersama. Ada yang membantu alat, ada yang ikut menimbun. Yang penting akses bisa segera digunakan kembali,” kata Riyanto.
Di tengah penanganan darurat, koordinasi dengan instansi teknis juga dilakukan untuk percepatan perbaikan lebih lanjut. Namun proses sempat terkendala pada mobilisasi alat berat.
“Untuk penanganan permanen tentu butuh alat berat dari balai jalan. Sambil menunggu itu, kami maksimalkan yang ada di lapangan,” jelasnya.
Perbaikan sementara kemudian diperkuat dengan pengerahan satu unit ekskavator guna menstabilkan jalur alternatif di pinggir badan jalan yang longsor.
Hasilnya, akses kendaraan mulai dibuka kembali secara terbatas pada Rabu sore. Meski demikian, sistem buka-tutup diterapkan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.
“Sekarang sudah bisa dilewati, tapi masih bergantian dan harus ekstra hati-hati. Kondisi jalan belum sepenuhnya aman,” ujarnya.
Camat Tulin Onsoi, Kristoforus Balake menyebut karakteristik geografis wilayah menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak longsor.
“Struktur tanah di sini memang cukup labil, apalagi di jalur menurun. Kalau hujan terus, daya dukung tanah bisa turun drastis,” katanya.
Ia menilai kejadian ini perlu menjadi perhatian serius, terutama dalam perencanaan perbaikan jalan di wilayah rawan longsor.
Menurutnya, perbaikan sementara yang dilakukan saat ini hanya bersifat darurat dan belum menjamin keamanan jangka panjang.
“Kalau hanya ditimbun, risikonya masih ada. Harus ada penanganan permanen supaya jalur ini benar-benar kuat,” tegasnya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, pengguna jalan diminta tetap waspada. Potensi longsor susulan masih terbuka, terutama jika curah hujan kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.
“Pengguna jalan tetap harus waspada, terutama kalau hujan kembali turun dengan intensitas tinggi,” pungkasnya. (*/rn)










