TARAKAN, Headlinews.id – Memasuki triwulan pertama 2026, inflasi tahunan Kota Tarakan tercatat mencapai 3,81 persen, seiring kenaikan harga pada Maret yang didorong oleh komoditas pangan dan sektor transportasi di tengah momentum Ramadan dan Idulfitri.
Kondisi ini menunjukkan tekanan harga mulai menguat, meskipun masih berada dalam kisaran target inflasi nasional.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi mengungkapkan bahwa secara bulanan (month to month), inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 0,63 persen.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan.
“Momentum Ramadan dan Idulfitri memang cenderung mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan dan transportasi yang permintaannya meningkat signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi dengan andil sekitar 0,30 persen. Selain itu, daging ayam ras dan angkutan udara juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
“Kenaikan harga cabai rawit sangat berpengaruh terhadap inflasi bulan ini. Di sisi lain, tarif angkutan udara juga mengalami penyesuaian seiring meningkatnya mobilitas masyarakat,” jelasnya.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (year to date) Kota Tarakan hingga Maret 2026 mencapai 1,06 persen. Umar menilai, jika tren ini berlanjut dengan pola yang relatif sama seperti tahun sebelumnya, maka inflasi sepanjang tahun 2026 berpotensi berada di kisaran yang sama dengan capaian saat ini.
“Dengan melihat pola yang ada, inflasi tahunan berpotensi bertahan di kisaran 3,8 persen apabila tidak ada gejolak harga yang signifikan pada bulan-bulan berikutnya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan pengaruh low base effect yang sebelumnya terasa pada awal tahun kini mulai mereda. Hal ini membuat laju inflasi tahunan menjadi lebih stabil dan mendekati rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah.
“Efek dari kebijakan diskon tarif listrik yang terjadi di awal tahun sudah mulai berkurang, sehingga pergerakan inflasi kini lebih mencerminkan kondisi riil di lapangan,” ungkapnya.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi Maret didominasi oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan kontribusi sebesar 0,54 persen.
Kelompok Transportasi juga memberikan andil sebesar 0,16 persen, sementara kelompok lain seperti kesehatan serta rekreasi turut menyumbang dalam porsi yang lebih kecil.
Di sisi berbeda, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya justru mencatat deflasi sebesar 0,11 persen. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga emas perhiasan yang cukup signifikan selama periode tersebut.
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, angkutan udara, ikan bandeng, telur ayam ras, hingga bahan pangan lainnya seperti tomat dan bawang merah.
Sementara itu, komoditas seperti emas perhiasan, sayuran hijau, serta beberapa jenis ikan justru menjadi penahan laju inflasi.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain, inflasi bulanan Tarakan lebih tinggi dibandingkan Provinsi Kalimantan Utara yang sebesar 0,57 persen dan nasional sebesar 0,41 persen. Namun secara tahunan, angkanya masih relatif sejalan dengan tren nasional yang berada di kisaran 3,48 persen.
Umar menegaskan pentingnya menjaga stabilitas pasokan dan distribusi, terutama pada komoditas pangan strategis, agar inflasi tetap terkendali ke depan.
“Kami berharap pengendalian harga dapat terus diperkuat melalui sinergi semua pihak, sehingga inflasi tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu,” tutupnya. (saf)










