TARAKAN, Headlinews.id – Kenaikan inflasi di Kalimantan Utara (Kaltara) pada Maret 2026 tidak lepas dari dorongan musiman menjelang Idulfitri, terutama dari lonjakan permintaan bahan pangan dan mobilitas masyarakat. Meski begitu, tekanan harga dinilai masih dalam batas terkendali.
Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara mencatat inflasi bulanan sebesar 0,57 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari yang berada di angka 0,47 persen. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,12 persen (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran nasional.
Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik menyebutkan, pola kenaikan harga pada Maret merupakan fenomena yang berulang setiap tahun, terutama menjelang hari besar keagamaan.
“Permintaan masyarakat meningkat cukup signifikan saat memasuki periode Lebaran, sehingga harga beberapa komoditas ikut terdorong naik. Namun kondisi ini masih dalam pola yang terjaga,” ujarnya.
Komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi, khususnya cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, serta ikan bandeng. Kenaikan harga dipicu kombinasi antara tingginya konsumsi dan keterbatasan distribusi di sejumlah wilayah.
“Faktor pasokan juga memengaruhi, terutama untuk komoditas yang sensitif terhadap distribusi. Ketika permintaan naik dan distribusi belum optimal, harga akan menyesuaikan,” jelasnya.
Selain pangan, tekanan juga datang dari sektor transportasi udara. Lonjakan aktivitas mudik menyebabkan tarif penerbangan meningkat, yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulan tersebut.
Meski demikian, laju inflasi tidak melonjak lebih tinggi karena adanya komoditas yang justru mengalami penurunan harga, seperti sayuran hortikultura dan emas perhiasan.
“Ada komoditas yang membantu menahan laju inflasi, terutama dari kelompok hortikultura karena pasokan sedang banyak. Ini yang membuat tekanan harga tidak terlalu besar,” katanya.
Secara wilayah, inflasi terjadi di seluruh daerah cakupan IHK di Kaltara, dengan Kota Tarakan mencatat angka tertinggi, diikuti Nunukan dan Tanjung Selor.
Menurut Hasiando, stabilnya inflasi juga dipengaruhi oleh langkah pengendalian yang dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak, termasuk penguatan distribusi dan pemantauan harga di lapangan.
“Koordinasi terus dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan, terutama pada komoditas strategis yang berpengaruh besar terhadap inflasi,” ujarnya.
Ia memastikan, pengendalian harga akan tetap difokuskan pada komoditas pangan dan kelancaran distribusi, khususnya setelah periode Lebaran. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga inflasi tetap stabil seiring normalisasi aktivitas masyarakat.
“Momentum setelah Lebaran biasanya menjadi fase penyesuaian. Bersama TPID, kami akan pastikan inflasi tetap terkendali dengan menjaga pasokan dan distribusi tetap lancar,” pungkasnya. (*/rs)










