TARAKAN, Headlinews.id – Cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi kendala utama dalam proses evakuasi dan pemulangan jenazah Captain Hendrik Ludwig, pilot pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air, yang mengalami kecelakaan di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kamis (19/2/2026).
Komandan Lanud Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, M.Sc., M.Si (Han), mengakui rencana penjemputan jenazah semula dijadwalkan pukul 08.30 WITA, sempat harus ditunda karena kondisi cuaca yang sangat buruk.
“Cuaca di sana visibility-nya sempat 500 meter, low cloud-nya juga sama seperti kemarin, base cloud sekitar 1.000 feet. Kami putuskan untuk menunda keberangkatan demi keselamatan,” ujar Marsma Dhewo.
Ia menambahkan, pihaknya menunggu hingga kondisi cuaca membaik. “Baru sekitar pukul 09.00–10.00 pagi, visibility meningkat hingga 4.500 meter, baru pesawat bisa berangkat ke lokasi dan Alhamdulillah semua berjalan lancar,” jelasnya.
Evakuasi jenazah Captain Hendrik dilakukan secara langsung oleh Pos AU Krayan bersama TNI AD, yang berada paling dekat dengan lokasi kecelakaan.
Komandan Pos AU Krayan, Letda Lek Paisal menjelaskan proses evakuasi yang berlangsung di medan yang sangat ekstrem, berbukit, licin, dan jauh dari akses jalan utama.
“Pertama kami tiba bersama masyarakat setempat dan pihak bandara (Long Bawan). Medan di lokasi sangat curam, berada di lereng gunung, dengan pohon-pohon besar dan tinggi yang menutupi area sekitar,” ujar Lek Paisal.
“Saat kami sampai, pesawat masih dalam kondisi terbakar. Pilot langsung kami identifikasi karena hanya ada satu awak di kokpit,” imbuhnya.
Setelah memastikan area aman dari bahaya, tim Pos AU mulai mengevakuasi jenazah dari kokpit pesawat.
“Kami koordinasi dengan masyarakat lokal, kemudian menandu jenazah sejauh sekitar satu jam menuju jalan raya terdekat. Dari sana, ambulance membawa korban ke RS Pratama Long Bawan,” jelasnya.
Lek Paisal menambahkan, jalan yang dilalui tim sangat menantang karena belum diaspal dan berupa tanah yang licin, curam, dan berbukit.
“Medan sangat berat, tetapi masyarakat setempat bekerja sama dengan kami dengan penuh dedikasi. Kondisi jenazah masih bisa dikenali saat dievakuasi,” kata Lek Paisal.
Selain itu, Pos AU Krayan juga memastikan keamanan lokasi, mensterilkan area dari potensi bahaya, dan membantu tim SAR serta aparat setempat dalam koordinasi evakuasi.
“Semua perlengkapan, termasuk tandu dan peralatan komunikasi, disiapkan agar proses evakuasi berjalan lancar meski memang medan sulit dan cuaca berubah-ubah,” tandasnya. (saf)










