TARAKAN, Headlinews.id– Dominasi kecelakaan laut masih menjadi tantangan utama operasi pencarian dan pertolongan di Kalimantan Utara sepanjang 2025.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tarakan mencatat puluhan operasi SAR yang sebagian besar terjadi di wilayah perairan, seiring tingginya aktivitas pelayaran dan kondisi cuaca yang fluktuatif.
Sepanjang tahun 2025, Basarnas Tarakan melaksanakan sebanyak 20 operasi SAR. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun karakter kejadian masih didominasi insiden di laut.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Tarakan, Dede Hariana, menyampaikan kecelakaan kapal tetap menjadi jenis kejadian yang paling sering ditangani oleh tim SAR.
“Jika dilihat dari jenis kejadian, mayoritas operasi yang kami laksanakan berkaitan dengan kecelakaan kapal. Selebihnya adalah kondisi darurat yang mengancam keselamatan manusia,” katanya.
Ia menjelaskan, selama 2025 tidak tercatat adanya bencana alam berskala besar yang membutuhkan pengerahan SAR secara masif. Fokus operasi lebih banyak tertuju pada kejadian individual di perairan.
“Sepanjang tahun kemarin tidak ada penanganan bencana besar. Hampir seluruh kegiatan SAR dilakukan di laut,” ujarnya.
Dari pemetaan wilayah, perairan Kabupaten Bulungan menjadi area dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Luas wilayah perairan serta tingginya mobilitas transportasi laut menjadi faktor utama.
“Perairan Bulungan membutuhkan perhatian lebih karena wilayahnya luas dan lalu lintas lautnya cukup aktif,” ucap Dede.
Dalam setiap operasi yang dilaksanakan, Basarnas Tarakan memastikan seluruh korban berhasil ditemukan. Total korban yang ditangani selama 2025 mencapai sekitar 20 orang.
“Seluruh operasi berakhir dengan ditemukannya korban. Ada yang berhasil diselamatkan, namun ada juga yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” jelasnya.
Terkait penyebab kejadian, Dede menuturkan bahwa faktor kelalaian masih sering ditemukan, diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem yang kerap berubah secara tiba-tiba.
“Cuaca yang tidak menentu menjadi faktor yang sangat memengaruhi keselamatan pelayaran. Jika tidak diantisipasi dengan baik, risikonya cukup tinggi,” katanya.
Ia menambahkan, peringatan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi rujukan penting dalam setiap pelaksanaan siaga dan operasi SAR.
“Informasi cuaca selalu kami pantau dan menjadi bahan pertimbangan utama sebelum dan saat pelaksanaan operasi,” ujarnya.
Meski cuaca kerap menjadi tantangan, Dede memastikan tidak ada hambatan berarti dalam pelaksanaan tugas SAR selama 2025. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama.
“Dalam setiap operasi, prinsip keselamatan tim selalu diutamakan. Cuaca menjadi tantangan, tetapi tidak menghentikan upaya pencarian dan pertolongan,” tegasnya.
Dari sisi sarana dan prasarana, Basarnas Tarakan menilai peralatan yang tersedia saat ini masih mendukung kebutuhan operasional. Namun, penguatan kapasitas tetap diperlukan.
“Kondisi alutsista saat ini masih mencukupi, tetapi penambahan peralatan tetap dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas penanganan di berbagai medan,” jelasnya.
Kedepan, Basarnas Tarakan memprioritaskan pengadaan peralatan pendukung untuk operasi di hutan, pegunungan, serta perlengkapan selam guna memperkuat operasi di perairan.
“Penguatan peralatan untuk medan jungle, mountaineering, dan penyelaman menjadi perhatian agar kemampuan SAR semakin optimal,” pungkas Dede. (saf)










