NUNUKAN, Headlinews.id– Kerusakan infrastruktur jalan di Kecamatan Krayan Selatan kembali mempengaruhi kelancaran distribusi kebutuhan pokok masyarakat. Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memperparah kondisi ruas jalan utama, sehingga kendaraan pengangkut logistik kesulitan menjangkau wilayah perbatasan tersebut.
Jalur darat yang menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah di Krayan Selatan mengalami kerusakan di sejumlah titik. Permukaan jalan berubah licin dan berlumpur, disertai genangan air dan penurunan badan jalan yang menghambat pergerakan kendaraan, khususnya mobil pengangkut sembako.
Gangguan akses tersebut berdampak langsung pada distribusi logistik. Dalam beberapa hari terakhir, frekuensi kendaraan pengangkut kebutuhan pokok yang masuk ke Krayan Selatan dilaporkan menurun, seiring meningkatnya risiko yang dihadapi para pengemudi.
Camat Krayan Selatan Oktavianus Ramli mengatakan, kondisi jalan yang rusak menyebabkan pengiriman barang tidak dapat dilakukan secara normal. Kendaraan yang biasanya masuk secara rutin kini harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan medan.
“Curah hujan yang cukup tinggi membuat akses jalan sulit dilalui. Di beberapa titik, kendaraan tidak bisa bergerak karena kondisi jalan sangat berat,” kata Oktavianus, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, para sopir angkutan memilih menunda perjalanan untuk menghindari risiko kendaraan rusak atau terjebak di tengah perjalanan. Medan yang berat dinilai dapat membahayakan keselamatan serta menimbulkan kerugian material.
“Kalau dipaksakan masuk, risikonya cukup besar. Kendaraan bisa rusak dan proses evakuasinya tidak mudah,” ujarnya.
Akibat berkurangnya kendaraan pengangkut, pasokan sembako ke sejumlah kampung tidak lagi berjalan lancar. Masyarakat saat ini bergantung pada persediaan yang ada di tingkat kampung sambil menunggu kondisi akses membaik.
Menurut Oktavianus, untuk sementara waktu kebutuhan pokok masyarakat masih dapat terpenuhi. Namun kondisi tersebut bersifat terbatas dan sangat bergantung pada perkembangan cuaca serta akses jalan.
“Untuk beberapa hari ke depan masih relatif aman. Tetapi jika distribusi terus terganggu, dampaknya akan mulai dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Selain menghambat distribusi sembako, kerusakan jalan juga memengaruhi mobilitas warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Akses menuju layanan kesehatan, pendidikan, dan kegiatan ekonomi menjadi terbatas akibat sulitnya transportasi darat.
Kondisi ini disebut bukan pertama kali terjadi. Setiap musim hujan, persoalan serupa kembali muncul dan menimbulkan dampak berulang bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
Oktavianus menilai, diperlukan penanganan infrastruktur yang lebih menyeluruh agar masalah distribusi dan mobilitas tidak terus berulang setiap tahun.
“Perbaikan akses jalan menjadi kebutuhan mendesak agar distribusi dan aktivitas warga kembali berjalan normal,” pungkasnya. (*/saf)










