MALINAU, Headlinews.id – Masih hangat dalam ingatan Martina Ibung, memori tiga tahun silam yang tak pernah ia sangka bisa mengubah hidupnya. Sebagai ibu rumah tangga, ia dulu tidak mengetahui cara menganyam. Baginya, menganyam hanyalah pekerjaan kuno dan rumit, sebatas membuat tas rotan atau anjat.
Namun lewat pendampingan KKI Warsi, jemari Martina kini mampu menghasilkan inovasi anyaman berupa bando cantik, gantungan kunci, hingga tas rotan berciri khas Dayak Punan.
Martina berasal dari Desa Metut, sebuah desa kecil di Kecamatan Malinau Selatan Hulu. Di sana, hampir setiap rumah menyimpan kisah tentang rotan sebagai warisan budaya Punan yang diwariskan lintas generasi. Kini, separuh perempuan Metut menggantungkan penghasilan dari anyaman rotan.
Cerita serupa datang dari Indra Hasan, petani gaharu Desa Laban Nyarit. Baginya, minyak atsiri bukan hanya produk, tetapi juga masa depan keluarga. Dulu, ia rela menjual totok gaharu mentah dengan harga murah, meski penuh peluh dan risiko di hutan.
Kini, bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu, ia berhasil memproduksi minyak gaharu, minyak kayu putih, hingga minyak sereh murni. Produk turunan ini membuatnya membawa pulang bukan sekadar hasil hutan, tetapi juga harapan.
Namun, di balik cerita keberhasilan itu, masih ada kegelisahan: pasar yang sempit dan penjualan yang hanya mengandalkan event membuat perjalanan menuju kemandirian belum sepenuhnya mulus.
Sebagai upaya memperkuat potensi lokal, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Malinau menggelar Pelatihan Manajemen dan Branding Produk pada 20–21 Agustus 2025. Peserta datang dari lima desa: Laban Nyarit, Metut, Nahakramo, Setulang, Belayan, dan Long Berini.
Perkuat Identitas Produk Lokal
Kabid Koperasi dan UMKM Disperindag Malinau, Melani Indah, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum berbagi pengetahuan, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengangkat potensi lokal.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada pelaku usaha desa tentang pentingnya manajemen usaha dan branding produk. Kami ingin produk lokal Malinau memiliki identitas yang kuat, berdaya saing, dan mampu masuk ke pasar yang lebih luas. Harapan kami, peserta membawa pulang semangat baru untuk menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di desanya masing-masing,” ujar Melani.
Menurutnya, membangun usaha tidak hanya soal produksi, tetapi juga strategi, identitas, dan kolaborasi. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk membuka akses promosi dan pemasaran, agar produk lokal Malinau mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri sekaligus bersaing di luar daerah.
Materi Aplikatif dan Inspiratif
Narasumber pelatihan, Agung Eko Sucahyono, menyampaikan bahwa materi difokuskan pada tiga hal: pengelolaan usaha sederhana, pengembangan produk, serta strategi branding.
“Tantangannya memang berbeda, ada yang sudah berpengalaman, ada juga yang baru mulai. Tapi justru itu kesempatan untuk saling belajar. Kami sajikan materi dengan cara aplikatif, bukan hanya teori. Respons peserta sangat baik, mereka aktif berdiskusi dan mulai memahami pentingnya branding untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam memasarkan produk,” jelasnya.
Antusiasme peserta begitu terasa. Ardi, perwakilan Desa Belayan yang mengembangkan batik dan ekowisata, mengaku pelatihan ini relevan dengan kondisi desanya.
“Pelatihan ini sangat membantu, terutama tentang identitas produk. Itu bisa meningkatkan nilai batik sekaligus mendukung promosi wisata di Belayan. Saya bertekad memperkuat promosi batik dan melibatkan anak muda desa agar bisa terlibat,” katanya.
Hal senada disampaikan Martina Ibung. Menurutnya, pelatihan ini membuka wawasan baru.
“Sebelumnya saya hanya fokus membuat anyaman. Dari pelatihan ini saya paham branding penting agar produk punya ciri khas. Saya ingin membagi ilmu ini ke kelompok, supaya produk anyaman Metut bisa lebih dikenal,” ujarnya.
Sinergi Membangun Ekonomi Desa
Selain sesi materi, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar desa. Peserta mendiskusikan strategi, merumuskan ide baru, dan menyadari bahwa produk mereka bukan sekadar barang, melainkan identitas dan kebanggaan desa.
Pelatihan ini mendapat dukungan dari KKI Warsi, KPH Malinau, serta dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Disperindag Malinau. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dan mitra dalam memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil.
Dengan perpaduan antara potensi sumber daya alam, kreativitas masyarakat, serta strategi branding yang tepat, produk-produk desa di Malinau diharapkan mampu menembus pasar regional, bahkan nasional. (*/kkiwarsi)