TARAKAN, Headlinews.id– Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Tarakan sejak Kamis (12/3/2026) malam memicu longsor dan pohon tumbang di sejumlah lokasi.
Dampak terparah terjadi di Jalan Wijaya Kesuma, RT 52, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, rumah yang disewa Slamet Utomo beserta istri, Risnawati rusak parah akibat tertimpa pohon buah Elai yang berukuran besar.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep menjelaskan hujan deras yang berlangsung lebih dari tiga jam menyebabkan empat laporan longsor dan empat laporan pohon tumbang.
“Kalau hujan tadi malam durasinya sekitar tiga jam lebih. Laporan yang sudah masuk ke kita ada empat longsor dan empat kayu tumbang. Tidak ada korban jiwa, tapi kerusakan materi cukup berat,” ujar Yonsep, Jumat (13/3/2026).
Ia merinci lokasi terdampak di Kelurahan Kampung 6 belakang Indoor Telaga Keramat, sekira pukul 23.00 wita. Kemudian dua lokasi di Kelurahan Kampung Satu Skip dan di Kelurahan Karang Balik.
“Sedangkan di Kelurahan Kampung Satu Skip mengakibatkan dua unit sepeda motor juga tertimbun pohon tumbang,” ujarnya.
Yonsep menambahkan, pohon tumbang paling parah terjadi di rumah milik Martinus Wisang Liwu yang disewa Slamet Utomo. Sehingga mengakibatkan kondisi rumah rusak parah dan tidak bisa ditempati.
“Kalau di Jalan Wijaya Kesuma ini atap seng rusak, tiang rumah patah, dan gelagar atap juga rusak. Rumah ini tidak dapat ditempati sementara, ini masuk kategori rusak parah,” jelas Yonsep.
BPBD Tarakan segera memberikan bantuan kepada korban. Martinus Wisang Liwu mendapatkan terpal, sementara Slamet Utomo beserta keluarga mendapatkan dua box peralatan dan dua matras untuk sementara.
Yonsep menyebutkan upaya penanganan dilakukan sejak dini hari, dimulai dengan asesmen lokasi dan evakuasi barang-barang berisiko tertimbun.
“Langkah pertama, kami mengarahkan warga untuk tidak tinggal di rumah terdampak. Kemudian dilakukan pemotongan pohon, sebagian dibantu warga, sisanya dikerjakan oleh BPBD. DLH akan mengangkut kayu yang telah dipotong,” tambahnya.
BPBD juga telah berkoordinasi dengan Lurah, Camat, dan BAZNAS untuk membantu logistik dan menyiapkan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. “Korban bisa mengungsi di rumah tetangga. Logistik untuk beberapa hari ke depan juga sudah disiapkan,” kata Yonsep.
Selain longsor dan pohon tumbang, hujan deras juga menyebabkan kenaikan air di beberapa titik, termasuk Karang Anyar dan Markoni. Namun, menurut Yonsep, banjir tidak berlangsung lama karena tidak bersamaan dengan pasang air laut.
“Material pasir yang terbawa hanya akibat derasnya hujan, bukan banjir pasang,” jelasnya.
Yonsep mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga empat hari ke depan.
“Hujan deras disertai angin kencang dan petir, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar atau tinggal di daerah rawan longsor. Jika risiko tinggi, segera berpindah ke tempat aman,” tegasnya.
Yonsep menegaskan, BPBD akan terus memantau kondisi cuaca dan melakukan koordinasi dengan aparat kelurahan serta camat terkait langkah penanganan lebih lanjut.
BMKG sebelumnya memperingatkan, cuaca ekstrem masih berlangsung beberapa hari ke depan, berbeda dengan dua minggu lalu yang justru menimbulkan kekeringan.
“Kami berharap, masyarakat tetap update terhadap informasi cuaca dan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari,” tandasnya.
Sementara itu korban pohon tumbang di Jalan Wijaya Kesuma, Risnawati, istri Slamet Utomo, menceritakan pengalaman menegangkan saat pohon tumbang menimpa rumahnya sekitar pukul 04.00 WITA.
“Pas lagi tidur sama anak-anak, tiba-tiba pohonnya roboh seperti guntur besar. Kami kaget banget dan langsung lompat keluar rumah,” ujarnya.
Ia menjelaskan rumahnya memiliki dua kamar, salah satunya hancur tertimpa pohon. “Kamar pertama plafonnya roboh, tapi yang parah kamar sebelah, pohon masuk ke situ. Kami tidak terkena, cuma kebasahan. Anak-anak basah karena terkena air hujan, tapi Alhamdulillah selamat semua,” tambah Risnawati.
Pohon yang tumbang merupakan pohon elai yang besar di samping rumah. Namun diakuinya, ia tidak sempat memperhatikan apakah memang ada pergeseran tanah sebelum hujan deras kamis malam.
“Pohon buah elao itu, besar memang. Tapi ada pagar seng di samping, jadi kami tidak tahu apakah tanahnya sempat turun. Yang penting kami semua selamat,” ujarnya. (saf)








