TARAKAN, Headlinews.id – Inflasi tahunan Kota Tarakan melonjak menjadi 5 persen pada Februari 2026, berada di luar target pemerintah sebesar 2,5 persen ±1 persen. Inflasi bulanan (month to month) tercatat 0,58 persen, setelah pada Januari 2026, sempat mengalami deflasi.
Kenaikan ini sebagian dipengaruhi oleh low base effect dari normalisasi tarif listrik pasca discount tahun 2025, sekaligus kenaikan harga komoditas pokok seperti emas perhiasan, cabai rawit dan daging ayam ras.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month to month) Februari tercatat sebesar 0,58 persen, sedangkan inflasi year to date mencapai 0,44 persen.
“Peningkatan harga emas perhiasan, cabai rawit, dan daging ayam menjadi penyumbang utama. Fenomena ini sejalan dengan normalisasi tarif listrik yang sebelumnya menekan inflasi tahun lalu, sehingga angka tahunan terlihat lebih tinggi,” kata Umar Rabu (4/3/2026).
Fenomena low base effect ini terjadi karena pada Januari dan Februari 2025, tarif listrik mengalami discount sehingga menekan inflasi awal tahun.
Hilangnya andil deflasi dari tarif listrik, sambil tetap memperhitungkan harga normal tahun ini, membuat inflasi tahunan Kota Tarakan Februari 2026 melampaui kisaran target.
Dari sisi kelompok pengeluaran, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar sebesar 0,29 persen, diikuti Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau 0,27 persen.
Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran serta Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga masing-masing menyumbang 0,02 persen dan 0,01 persen. Sementara itu, kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya justru memberikan deflasi 0,01 persen.
Umar Riyadi merinci sejumlah komoditas yang mendorong inflasi Februari 2026. Di antaranya emas perhiasan, cabai rawit, daging ayam ras, ikan bawal, telur ayam ras, tomat, kangkung, kacang panjang, angkutan udara, dan kue kering berminyak.
Sementara komoditas yang menyumbang deflasi antara lain ikan layang/benggol, bawang merah, ikan bandeng, sawi hijau, bensin, sabun detergen bubuk, ikan mujair, buku pelajaran SD, udang basah, dan ikan senangin.
Ia menekankan kenaikan harga beberapa komoditas harus tetap diantisipasi agar daya beli masyarakat tidak terganggu, khususnya selama bulan Ramadhan.
“Harga kebutuhan pokok seperti cabai, ayam, dan telur harus tetap terjangkau. Jika harga stabil, masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan ekonomi lokal berjalan lancar,” kata Umar.
Perbandingan inflasi pada bulan Februari 2026 menunjukkan Kota Tarakan dengan inflasi bulanan 0,58 persen, inflasi kalender 0,44 persen, dan inflasi tahunan 5,00 persen.
Provinsi Kalimantan Utara mencatat inflasi bulanan 0,47 persen, inflasi kalender 0,57 persen, dan inflasi tahunan 4,75 persen. Secara nasional, inflasi bulanan tercatat 0,68 persen, inflasi kalender 0,53 persen, dan inflasi tahunan 4,76 persen.
“Kestabilan harga terutama pada komoditas pokok harus dijaga agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” tegasnya. (saf)









