TARAKAN , Headlinews.id – Teka-teki hilangnya Ruslan (35), korban terakhir kecelakaan kapal longboat di perairan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung (KTT) yang terjadi pada Sabtu (21/3/2026), akhirnya terjawab. Jasad pria yang berprofesi sebagai nelayan asal Tarakan tersebut ditemukan mengapung di perairan Gusung Burung, Kecamatan Bunyu, Bulungan pada Jumat (3/4/2027) sore.
Kapolresta Bulungan Kombes Pol Rofikoh Yunianto melalui Plt Kapolsek Bunyu, Iptu H. Arfah Abdullah, S.Sos., membenarkan penemuan tersebut. Laporan awal diterima dari warga sekitar pukul 16.10 WITA.
“Benar, kami menerima laporan adanya penemuan mayat di perairan Gusung Burung oleh masyarakat,” ujar Iptu Arfah, Sabtu (4/4/2026).
Menindaklanjuti laporan itu, personel Polsek Bunyu langsung berkoordinasi dengan Satpolairud dan bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi.
Berdasarkan keterangan saksi, jasad pertama kali ditemukan nelayan bernama Bakri sekira pukul 13.30 WITA saat memukat ikan di perairan Gusung Burung, Pulau Bunyu.
Saksi terkejut melihat sesosok tubuh dalam posisi tengkurap mengapung di permukaan air. Saat ditemukan, jenazah tersangkut pada tali di area perairan tersebut.
Temuan itu segera dilaporkan kepada anggota Ditpolairud Polda Kaltara, yang kemudian diteruskan ke Polsek Bunyu.
Penemuan jasad Ruslan mengakhiri pencarian panjang yang sebelumnya dilakukan tim SAR gabungan. Operasi yang dipimpin Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan telah dihentikan pada Jumat (27/3/2026) setelah tujuh hari pencarian tidak membuahkan hasil.
Kecelakaan bermula saat longboat yang ditumpangi tiga orang dihantam badai di perairan Tanah Merah pada dini hari.
Dari tiga penumpang, Mahmud (50) selamat, sementara Sudirman (48) ditemukan meninggal dunia pada hari ketiga pencarian.
Ruslan menjadi korban terakhir yang belum ditemukan hingga operasi SAR resmi ditutup pekan lalu.
Iptu Arfah menjelaskan, saat ditemukan terdapat dua jerigen biru di dekat jasad korban yang diduga digunakan sebagai alat bantu apung.
“Kondisi jenazah masih mengenakan pakaian lengkap, sehingga memudahkan proses identifikasi awal oleh keluarga,” katanya.
Meski telah lebih dari dua pekan, ciri-ciri korban masih dapat dikenali oleh pihak keluarga yang datang ke Tarakan untuk memastikan identitas.
Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi cuaca berangin dan gelombang cukup tinggi. Namun, jasad berhasil diangkat ke kapal patroli Ditpolairud Polda Kaltara.
Selanjutnya, jenazah dibawa ke RSUD Tarakan untuk penanganan medis sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
“Keluarga telah memastikan identitas korban. Jenazah kemudian diberangkatkan dari Bunyu menuju Tarakan sekitar pukul 18.30 WITA dengan pengawalan petugas,” tutup Iptu Arfah. (saf)







