TARAKAN, Headlinews.id — Perlambatan ekonomi dunia kembali menjadi perhatian Bank Indonesia setelah proyeksi pertumbuhan global 2025 turun dari 3,3 menjadi 3,1 persen. Sejumlah indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan dan meningkatnya ketidakpastian, yang turut memengaruhi outlook perekonomian Indonesia.
Kepala Perwakilan BI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menyebut tekanan eksternal tersebut turut memengaruhi prospek ekonomi Indonesia. Menurutnya, berbagai indikator menunjukkan kondisi ekonomi global tidak berada dalam situasi ideal.
“Sedikit-sedikit kita mendengar kondisi global, dan sebetulnya kondisinya tidak terlalu baik-baik saja. Banyak negara mengalami perlambatan,” ujarnya dalam Benuanta Investment and Economic Summit di Tarakan, Jumat (21/11/2025).
Kegiatan tersebut juga dihadiri Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D., Managing Director & Chief Economist Danantara Reza Yamora Siregar, serta Lead Adviser Revenue (Policy & Administration) pada Australia–Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera), Rubino Sugana.
Kehadiran para pembicara tersebut memperkuat diskusi menyangkut prospek perekonomian nasional dan regional di tengah tekanan global.
Hasiando menjelaskan perlambatan ekonomi dunia dipicu sejumlah faktor eksternal, mulai dari dinamika ekonomi Amerika Serikat yang menghadapi economic government shutdown, hingga perang tarif antara Amerika Serikat dan China.
Dampak ketegangan global tersebut dirasakan langsung pada penurunan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. “Hal-hal seperti itu membuat demand produk ekspor kita menghadapi tantangan di tahun ini dan tahun depan,” katanya.
Ia menyebut ketidakpastian global juga tercermin dari beberapa indeks volatilitas yang sejak 2021 masih berada pada level tinggi. Meski menunjukkan sedikit penurunan, indeks tersebut tetap menandakan risiko yang harus diantisipasi berbagai negara.
Di tengah tekanan tersebut, ekonomi Indonesia menurutnya masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III tercatat 5,04 persen, sedikit melambat dibanding triwulan II namun tetap ditopang oleh kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah.
“Permintaan domestik kita masih cukup kuat, itu yang menjaga ekonomi kita tetap tumbuh,” ujarnya.
Sementara inflasi nasional berada pada level terkendali, tantangan terbesar masih datang dari kelompok volatile food, terutama di beberapa wilayah Sumatera. Untuk kawasan Kalimantan, stabilitas harga relatif lebih terjaga.
Dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen.
“Ada dua arah kebijakan kami: pro stability dan pro growth. Kami menjaga stabilitas rupiah, stabilitas harga, dan stabilitas sistem keuangan, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Hasiando.
Ia menegaskan kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk memperkuat perekonomian nasional di tengah meningkatnya risiko global. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah juga tengah bekerja keras meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar tetap berada di jalur yang ditargetkan, termasuk target Presiden untuk mencapai pertumbuhan 8 persen pada 2028.
“Upaya peningkatan pertumbuhan sedang digalakkan di seluruh sektor. Tantangannya besar, tetapi peluangnya juga ada,” tuturnya.
Hasiando menambahkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat, memperkuat investasi, dan meningkatkan daya saing ekspor.
Berbagai langkah seperti stabilisasi harga pangan, percepatan penyerapan anggaran, serta dukungan terhadap UMKM terus diperkuat guna menjaga momentum pertumbuhan. Ia menilai tahun 2025 dan 2026 akan menjadi fase krusial bagi Indonesia dalam memastikan ekonomi tetap tangguh di tengah dinamika global.
Secara keseluruhan, ia menegaskan meski risiko global masih tinggi, perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang aman. “Selama stabilitas terjaga, kita punya ruang untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” pungkasnya. (saf)










