TARAKAN, Headlinews.id– Rencana relokasi pedagang buah musiman dari depan Lapangan Indoor Telaga Keramat di Jalan Sei Sesayap ke lahan di Jalan Gunung Keramat untuk sementara ditunda.
Permintaan penundaan disampaikan DPRD Tarakan menyusul keluhan pedagang saat kunjungan lapangan gabungan Komisi DPRD, Selasa (27/1/2026).
Ketua DPRD Tarakan, Muhammad Yunus menegaskan, penundaan relokasi diperlukan karena masih banyak persoalan yang belum terselesaikan.
“Ada keluhan masyarakat pedagang buah terkait akan direlokasi atau dipindah ke tempatnya yang tadi kita kunjungi bersama ternyata masih ada bermasalah,” ujar Yunus.
Selain itu, pembangunan fasilitas pendukung, seperti trotoar, yang dijanjikan pemerintah belum siap. Menurut Yunus, anggaran untuk pembangunan trotoar baru akan diajukan.
“Yang kedua, pemerintah menjanjikan akan membangun trotoar di sini, sempat kami tanyakan anggarannya, ternyata baru mau diusulkan,” katanya.
Persoalan lain yang menjadi pertimbangan DPRD adalah karakter usaha pedagang yang sebagian besar musiman. Beberapa pedagang menyatakan setelah masa jualannya selesai, mereka tidak lagi berjualan.
“Yang ketiga, pedagang buah ini kan musiman. Jadi ada beberapa pedagang menyatakan, ya kalau habis, kan kami tidak jualan lagi. Tapi kita ketahui bersama ada juga pedagang buah yang tidak musiman, ada beberapa rombong di situ,” jelas Yunus.
Meski relokasi tetap dianggap perlu agar pedagang menempati tempat yang layak, DPRD menekankan agar prosesnya menunggu kesiapan fasilitas di Kampung 4 Pasar Rakyat.
“Kalau nanti ada relokasi, tunggulah sampai yang di Kampung 4 itu sudah bisa ditempati. Karena ini yang pertama, mau menghadapi bulan puasa. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Terkait lokasi relokasi di Jalan Gunung Keramat, Yunus menegaskan rencana itu bukan batal, namun belum bisa dilakukan. Sebab ada satu warga yang mengklaim memiliki tanah di lokasi tersebut, dan DPRD tidak ingin ada pengakuan resmi atas klaim itu sebelum adanya kesepakatan.
“Untuk yang rencana kemarin dipindah ke Jalan Gunung Keramat, itu bukan belum jadi, tapi belum bisa, karena ada salah satu masyarakat yang mengklaim bahwa dia punya tanah. Saya tidak ingin ada perjanjian yang berarti mengakui kepemilikan tanahnya,” katanya.
Sementara itu, DPRD juga meminta pedagang sementara tetap bisa berjualan di lokasi saat ini dengan penataan yang lebih tertib, terutama bagi rombong yang menjorok ke badan jalan.
“Yang penting, yang seperti tadi kita lihat, yang menjulang ke badan jalan dimundurkan supaya tidak mengganggu pengguna jalan,” ujarnya.
Data sementara mengenai jumlah pedagang yang terdampak masih berbeda. Menurut pedagang, jumlahnya sekitar 50 orang, sementara laporan dari kelurahan menyebut ada lima pedagang yang menetap dengan fasilitas listrik.
Selain Sei Sesayap, pedagang musiman juga berada di Tugu 99, Jalan Mulawarman, dan area bandara. Beberapa lokasi sempat dilarang oleh Satpol PP karena penggunaan trotoar.
“Kami berharap proses pemindahan pedagang dapat dilakukan lebih tertib, fasilitas yang layak tersedia, dan potensi konflik dengan masyarakat sekitar diminimalisir,” tegasnya.
Salah satu pedagang, Milka mengungkapkan sebelumnya ada pedagang yang mencoba berjualan di pinggir Jalan Gunung Keramat, tetapi sepi pembeli.
“Ada yang pernah nyoba jualan di situ. Katanya, yang penjual kelapa di sana, jualannya sepi. Nggak ada pembeli, jadinya keluar dia. Seandainya rame, nggak keluar dia ke sini. Kita terbagi, kan kalau dulu kan ada teman di sana,” jelas Milka.
Milka menambahkan, lokasi yang strategis di Sei Sesayap menjadi alasan sebagian pedagang memilih tetap berjualan di tempat lama.
“Orang ke Amal, Kampung 6, Kampung 4 pasti lewat sini. Kalau di dalam ya nggak tahu juga, soalnya belum pernah. Menurut yang sudah pernah jualan di dalam, sepi di situ. Makanya pada keluar ke sini,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, pedagang tidak dikenakan biaya sewa karena lahan termasuk tanah negara, sehingga usaha mereka hanya menumpang dan membersihkan area sendiri.
“Kalau saya sih baru lima bulan, mau jalan enam bulan kerja disini. Tapi bosku sudah lama, bertahun-tahun. Tidak ada bayar sewa, kan tanah negara. Jadi nggak ada sewa, bangun-bangun sendiri aja. Yang penting dia bersihkan,” ungkap Milka. (saf)










