TARAKAN, Headlinews.id — Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, denyut aktivitas di gudang Perum Bulog Cabang Tarakan kian terasa. Tumpukan karung beras, deretan gula, hingga jeriken minyak goreng tak pernah sepi dari pergerakan. Dari tempat inilah kebutuhan pokok masyarakat mengalir ke pasar-pasar, toko ritel, hingga kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan.
Setiap hari, truk-truk logistik hilir mudik keluar masuk gudang. Membawa beras, gula, dan minyak goreng, menuju berbagai penjuru kota, bahkan hingga ke wilayah perbatasan. Ramadan bukan hanya meningkatkan konsumsi, tetapi juga menghidupkan semangat berbagi yang ikut mendorong permintaan bahan pokok.
Kepala Cabang Bulog Tarakan, Zamakhsyari Afsolin, mengatakan bahwa sejak awal tahun 2026, penyaluran bahan pokok sebenarnya sudah berjalan stabil. Namun, memasuki Ramadan, tren permintaan mulai menunjukkan peningkatan.
“Sejak awal tahun penyaluran cukup stabil karena hampir setiap bulan ada momentum hari besar. Namun memasuki Ramadan memang terlihat peningkatan permintaan,” ujarnya, Senin (16/03/2026).
Data Bulog mencatat, pada Januari 2026 penyaluran beras program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai 193 ton, sementara beras premium 12 ton. Pada periode yang sama, distribusi gula mencapai 4,8 ton dan minyak goreng sekitar 52 ribu liter.
Memasuki Februari, penyaluran beras SPHP sedikit menurun menjadi 188 ton. Namun beras premium justru meningkat menjadi 17 ton. Di sisi lain, distribusi minyak goreng melonjak signifikan hingga 108 ribu liter, sementara gula tercatat 2,3 ton.
Sementara hingga pertengahan Maret 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai 92 ton dan beras premium 12 ton. Gula yang tersalurkan sekitar 2 ton, sedangkan minyak goreng mencapai 51 ribu liter.
Jika tren ini berlanjut hingga akhir bulan, Bulog memperkirakan terjadi peningkatan penyaluran bahan pokok hingga sekitar 50 persen dibandingkan Januari.
Menurut Zamakhsyari, lonjakan ini bukan semata karena bazar murah yang digelar pemerintah atau lembaga. Tradisi berbagi di bulan Ramadan juga menjadi faktor kuat yang mendorong peningkatan distribusi.
“Banyak bazar murah digelar, ditambah kegiatan berbagi oleh instansi, pengusaha, maupun individu. Itu semua berdampak pada meningkatnya penyaluran bahan pokok dari Bulog,” jelasnya.
Bulog Tarakan tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat di Kota Tarakan, tetapi juga mendistribusikan bahan pokok ke wilayah Nunukan. Namun, penyaluran ke daerah perbatasan tersebut masih relatif terbatas.
Pada Januari 2026, distribusi beras SPHP ke Nunukan tercatat sekitar 6 ton. Februari tidak ada penyaluran, sementara hingga pertengahan Maret kembali disalurkan sebanyak 9 ton beras dan sekitar 6 ribu liter minyak goreng.
“Penyaluran ke Nunukan memang masih kecil karena terkendala biaya distribusi yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Di tengah meningkatnya aktivitas menjelang Lebaran, Bulog memastikan ketersediaan bahan pokok dalam kondisi aman. Saat ini, stok beras di gudang mencapai sekitar 1.400 ton. Selain itu, tersedia minyak goreng sekitar 55 ribu liter dan gula sekitar 2 ton.
Bulog juga telah menyiapkan tambahan pasokan gula sekitar 25 ton yang akan masuk setelah Lebaran, sebagai langkah menjaga stabilitas pasokan di pasar.
Dengan kondisi tersebut, Bulog memperkirakan ketersediaan beras masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga enam bulan ke depan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap berbelanja secara bijak dan tidak berlebihan.
“Belanja sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying. Stok Bulog, terutama beras, masih aman,” tegas Zamakhsyari.
Di balik angka-angka distribusi itu, Ramadan menghadirkan makna yang lebih dalam. Bahan pokok yang keluar dari gudang bukan sekadar komoditas, melainkan menjadi bagian dari kebahagiaan berbuka puasa, paket bantuan bagi yang membutuhkan, serta simbol kepedulian sosial yang menguat di tengah masyarakat. (*jmsi)










