TARAKAN, Headlinews.id– Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalimantan Utara menjadi fokus penguatan pengawasan karantina, menyusul koordinasi intensif antarinstansi terkait mitigasi penyakit Nipah.
Karantina Kalimantan Utara memperkuat koordinasi dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Tarakan sebagai langkah meningkatkan kewaspadaan, terhadap potensi masuknya penyakit zoonosis melalui jalur perlintasan internasional.
Koordinasi difokuskan pada penguatan pengawasan di pintu pemasukan, mengingat Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Malaysia serta memiliki mobilitas orang dan barang yang cukup tinggi melalui jalur udara, laut, dan darat.
Kepala Karantina Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana Machmud menyebutkan, penyakit Nipah menjadi salah satu ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi secara serius.
Ditambah lagi, penyakit Nipah termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi.
“Penyakit Nipah harus dimitigasi sejak dari hulu. Pengawasan tidak boleh hanya reaktif, tetapi dilakukan secara preventif melalui pengendalian lalu lintas media pembawa di pintu pemasukan,” kata Ichi.
Ia menjelaskan, Karantina Kalimantan Utara berfokus pada pengawasan lalu lintas hewan, produk hewan, tumbuhan, produk tumbuhan, serta alat angkut yang berpotensi menjadi media pembawa virus Nipah.
Pengawasan tersebut dilakukan terutama terhadap pemasukan dari wilayah atau negara yang belum dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
Menurut Ichi, karakter wilayah perbatasan menuntut sistem pengawasan yang konsisten dan berbasis risiko.
Setiap media pembawa yang masuk harus memenuhi persyaratan karantina guna mencegah potensi penularan penyakit ke wilayah Kalimantan Utara.
“Pintu pemasukan merupakan titik krusial. Jika pengawasan di titik ini lemah, maka risiko penyebaran penyakit ke masyarakat akan semakin besar,” ujarnya.
Sementara itu, BKK Kelas I Tarakan memiliki peran dalam pengawasan kesehatan manusia dan lingkungan, termasuk pemantauan terhadap perlintasan orang dari luar negeri.
Sinergi antara Karantina dan BKK dinilai penting untuk membangun sistem perlindungan kesehatan yang saling melengkapi.
Ichi menambahkan, koordinasi ini menjadi bagian dari penerapan pendekatan One Health. Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam upaya pencegahan penyakit zoonosis.
“Mitigasi penyakit Nipah tidak bisa dilakukan satu instansi saja. Diperlukan kerja bersama agar pengendalian risiko berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, langkah mitigasi mencakup pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik media pembawa, hingga kesiapsiagaan petugas di lapangan. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan.
Menurut Ichi, koordinasi lintas sektor menjadi langkah tepat karena karakteristik Kalimantan Utara sebagai daerah perlintasan internasional, memiliki kerentanan tersendiri terhadap penyakit menular lintas negara.
“Kami memastikan setiap media pembawa yang masuk diawasi sesuai ketentuan, sehingga potensi penyakit menular seperti Nipah dapat dicegah sejak awal,” pungkasnya.(*/saf)










