TARAKAN, Headlinews.id– Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, Yonsep, S.E., PMP, mengatakan sebagian titik kebakaran berada cukup jauh dari akses jalan sehingga menyulitkan petugas saat melakukan pemadaman.
BPBD Tarakan sendiri saat ini memiliki satu unit mobil pemadam, tiga unit kendaraan pickup, serta satu unit kendaraan pengangkut suplai air untuk penanganan kebakaran lahan.
“Jika jarak api 200 sampai 500 meter ke dalam, tentu sulit dijangkau kendaraan. Kami biasanya menggunakan peralatan portable. Tapi kalau sumber air tidak ada, tentu juga menjadi kendala,” jelas Yonsep.
Menurutnya, kondisi lahan di Tarakan saat ini sebagian besar berupa semak belukar dan bukan lagi hutan lebat. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menjalar, terlebih ketika disertai angin.
“Meskipun dibackup oleh PMK dan kehutanan, tetap saja penanganannya cukup sulit karena api cepat menyebar ketika angin kencang,” ujarnya.
Untuk itu BPBD Tarakan mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat membersihkan lahan, terutama jika menggunakan cara pembakaran.
“Kalau membakar, usahakan lokasi api bisa dikendalikan. Komunikasikan dengan kehutanan atau BPBD agar kami bisa membantu sebelum api meluas. Jangan sampai merugikan orang lain,” kata Yonsep.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang membuka kebun agar menyediakan kolam atau tampungan air di sekitar lahan. Selain bermanfaat untuk menyiram tanaman, kolam tersebut juga dapat menjadi sumber air saat terjadi kebakaran.
“Kalau ada kolam, baik di kebun maupun di lahan sekitar, bisa kita gunakan untuk mesin portable saat pemadaman. Tapi sejauh ini hanya sebagian masyarakat yang punya, biasanya yang membuat kolam ikan,” jelasnya.
Selain itu masyarakat juga diminta segera melaporkan jika terjadi kebakaran agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
“Sering kali laporan masuk setelah api sudah membesar. Itu membuat proses pemadaman lebih sulit. Karena itu kami harap masyarakat bisa melapor lebih cepat,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan, Sofyan, melalui Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Tarakan, Eko Supriyatnoko, menyebut beberapa kejadian karhutla yang mendekati kawasan permukiman menjadi tanggung jawab penanganan pihaknya.
Eko menjelaskan, selama Februari 2026 terdapat tiga kejadian kebakaran lahan yang lokasinya berada dekat permukiman warga.
“Jumlah itu menurun cukup signifikan dibandingkan Januari yang mencapai sembilan kejadian. Lokasinya antara lain di Juata Laut RT 20 Padat Karya, RT 21 Perumahan PNS, serta Jalan Bukit Mandiri RT 17,” jelasnya.
Sementara untuk Maret hingga 10 Maret 2026, PMK Tarakan mencatat sedikitnya empat kejadian kebakaran lahan.
“Tanggal 5 Maret di RT 21 Juata Laut Jalan Aji Iskandar, tanggal 6 Maret di Juata Kerikil RT 5, dan hari ini 10 Maret di Jalan Aki Balak depan SMKN 2 Kecamatan Tarakan Barat. Untuk lokasi yang depan STM kami menurunkan mobil suplai air 5 ton,” ujarnya.
Eko menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan indikasi adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran lahan yang terjadi.
Namun, ia pastikan terus memantau titik-titik rawan kebakaran seiring kondisi cuaca kering yang diperkirakan masih terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Bisa jadi karena ketidaksengajaan, karena indikasi kesengajaannya tidak ditemukan. Namun dengan cuaca panas beberapa hari terakhir ini kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan menghindari pembakaran lahan,” katanya. (saf)










