ADA yang unik di pelosok Kalimantan Utara, tepatnya di Desa Buong Baru, Kecamatan Betayau, Kabupaten Tana Tidung. Di balik rimbunnya hutan dan jalur tanah yang jarang dilalui, terdapat sebuah gua bersejarah yang menyimpan kisah kolonial.
Namanya Gua Buong Baru, dikenal juga sebagai bunker peninggalan Belanda.
Tak banyak yang tahu keberadaannya. Gua ini bagaikan ruang sunyi yang membeku dalam waktu, menyimpan jejak masa lalu yang perlahan terlupakan.
Namun bagi mereka yang berani menempuh perjalanan menuju lokasi, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar wisata alam, tetapi juga perjalanan menembus sejarah.
Jejak Kolonial yang Terlupakan
Gua Buong Baru dipercaya digunakan Belanda pada masa penjajahan sebagai tempat persembunyian sekaligus pos pertahanan. Letaknya yang terpencil membuatnya aman dari jangkauan masyarakat lokal.
Dari keterangan warga, di dalam gua pernah ditemukan botol kaca, pecahan alat, bahkan senjata tajam seperti keris dan pedang. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa gua tersebut dimanfaatkan sebagai bunker atau ruang logistik.
Meski sebagian peninggalan sudah tidak berada di lokasi, suasana di dalam gua tetap menyisakan nuansa masa lalu yang kental.
Pada 2023 lalu, pemerintah daerah menetapkannya sebagai cagar budaya Kabupaten Tana Tidung. Pengakuan ini menjadi langkah awal, meski pengelolaan dan fasilitas wisata masih sangat terbatas.
Perjalanan Menuju Gua
Rute menuju Gua Buong Baru dimulai dari Tideng Pale, ibu kota Tana Tidung. Waktu tempuh sekitar satu jam, dengan jalur kombinasi antara jalan beraspal, jalan tanah, hingga trek hutan.
– Tahap awal perjalanan masih terasa “ramah”. Jalan beraspal membawa pengunjung melewati perkampungan warga. Rumah-rumah sederhana berdiri di sisi jalan, dengan ladang dan kebun kecil yang ditanami pisang, singkong, atau sayur mayur.
– Beberapa kilometer berikutnya, suasana berubah. Jalan aspal berakhir, berganti jalan tanah merah yang licin saat hujan. Kendaraan mulai berguncang, suara mesin berpacu dengan deru alam.
– Memasuki kawasan hutan, pemandangan semakin menakjubkan. Pohon besar menjulang tinggi, rimbunnya dedaunan menciptakan atap alami yang menaungi perjalanan. Udara berubah lebih sejuk, sesekali terdengar kicau burung atau teriakan kera yang bergelantungan di ranting.
– Tantangan perjalanan semakin terasa: jalur menanjak, akar pohon yang melintang, hingga aliran sungai kecil yang harus diseberangi. Di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai.
Belum ada jalur trekking resmi atau infrastruktur wisata yang tertata. Jadi perjalanan masih sangat bergantung pada kondisi alam.
Rute bisa berubah tergantung musim (musim hujan bikin jalan tanah sulit dilalui, sungai lebih deras).
Karena itu biasanya disarankan menggunakan pemandu lokal supaya lebih aman.
Meski menantang, perjalanan ini justru menjadi bagian paling berkesan. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk menikmati suara alam atau sekadar merasakan kesejukan air sungai. Setiap langkah membawa sensasi berbeda—seolah memasuki dunia lain yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Pesona Gua Buong Baru
Sesampainya di lokasi, mulut gua tampak sederhana, hanya lubang gelap di antara pepohonan. Namun ketika kaki melangkah masuk, atmosfer berubah drastis.
Hawa dingin menyergap, udara lembap memenuhi rongga dada. Cahaya senter menyorot dinding batu yang ditumbuhi lumut, menciptakan pantulan hijau redup. Ruangan di dalam gua cukup besar, membuat pengunjung bisa berdiri tegak tanpa merasa terhimpit.
Keheningan gua benar-benar pekat. Hanya suara tetesan air yang memecah sunyi. Suasana ini menghadirkan kesan mistis, seolah setiap sudut gua masih menyimpan rahasia dari masa lalu. Di titik inilah, pengunjung sering merasa seakan sedang berjalan di lorong waktu.
Daya Tarik Wisata Edukatif
Gua Buong Baru bukan sekadar gua alami. Nilai sejarah yang melekat menjadikannya situs budaya penting, sekaligus destinasi wisata potensial.
Jika dikelola dengan baik, gua ini dapat menawarkan paket wisata lengkap:
– Trekking hutan tropis bagi pecinta petualangan.
– Wisata sejarah bagi pelajar, peneliti, dan masyarakat umum.
– Wisata fotografi karena panorama hutan dan nuansa gua sangat fotogenik.
Bayangkan sebuah jalur resmi dengan papan informasi sejarah, fasilitas penerangan, serta paket wisata terarah. Bukan tidak mungkin Gua Buong Baru menjadi ikon wisata heritage Kalimantan Utara.
Apa yang Dinikmati Selama Perjalanan?
Selain tujuan akhir berupa gua, pengalaman perjalanan adalah bagian penting dari pesona Gua Buong Baru:
1. Perkampungan warga dengan ladang dan kebun sederhana.
2. Hutan tropis lebat dengan udara segar yang jarang ditemui di perkotaan.
3. Suara satwa liar seperti burung, serangga, hingga monyet ekor panjang.
4. Aliran sungai kecil yang jernih, cocok untuk berhenti sejenak melepas lelah.
5. Cahaya matahari yang menembus pepohonan, menciptakan nuansa magis di dalam hutan.
6. Keheningan alami yang memberi ruang untuk refleksi diri.
Setiap elemen perjalanan ini menjadikan kunjungan ke Gua Buong Baru lebih dari sekadar “jalan-jalan”. Ia adalah pengalaman penuh, menyatukan alam dan sejarah dalam satu lintasan.
Tips Praktis Berkunjung ke Gua Buong Baru
Bagi yang ingin merasakan langsung pengalaman menuju gua, ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan:
– Gunakan kendaraan yang sesuai medan. Motor trail atau mobil double gardan sangat disarankan.
– Bawa perlengkapan pribadi. Senter atau headlamp, sepatu trekking, jas hujan, dan air minum wajib tersedia.
– Datanglah di pagi hari. Agar perjalanan pulang lebih aman dan nyaman sebelum gelap.
– Siapkan fisik. Trekking menantang membutuhkan stamina yang cukup.
– Hormati situs sejarah. Jangan mengambil atau merusak benda apapun di dalam gua.
– Bawa kamera. Banyak momen indah yang bisa diabadikan, dari hutan hingga gua.
– Ajak pemandu lokal. Selain membantu menunjukkan jalur, mereka juga bisa menceritakan latar belakang gua.
Total waktu tempuh: ±1 jam dari Tideng Pale
0 – 15 Menit: Keluar dari Tideng Pale
Jalan beraspal mulus, melewati rumah warga dan kios sederhana.
15 – 30 Menit: Perkampungan & Kebun Warga
Pemandangan berganti rumah panggung, ladang singkong, kebun pisang, hingga ternak warga.
30 – 45 Menit: Jalur Tanah & Hutan Rimbun
Aspal berakhir, jalan tanah merah bergelombang.
Pohon besar menjulang, udara hutan semakin sejuk.
45 – 55 Menit: Sungai Kecil & Trekking
Beberapa titik ada aliran sungai kecil.
Kendaraan biasanya ditinggalkan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
55 – 60 Menit: Tiba di Gua Buong Baru
Mulut gua tersembunyi di balik pepohonan.
Suasana dingin, lembap, dan mistis menyambut pengunjung.
Menjaga Warisan, Menyulam Masa Depan
Gua Buong Baru bukan sekadar ruang kosong di dalam hutan. Ia adalah saksi bisu sejarah kolonial, sekaligus aset wisata alam yang berharga.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya ada di kota besar, tetapi juga tersembunyi di desa-desa terpencil. Jika dijaga dan dikelola dengan baik, gua ini bisa menjadi kebanggaan Tana Tidung, bahkan Kalimantan Utara.
📰 Catatan Redaksi:
Mengunjungi Gua Buong Baru adalah perjalanan menembus dua dunia: dunia hutan tropis yang masih perawan, dan dunia sejarah yang membeku di balik dinding batu. Di sanalah kita diajak merenung, bahwa alam dan sejarah selalu menyimpan pelajaran—jika kita bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan.