ARDANI, 39 tahun, sudah 15 tahun mengabdi sebagai marbot Masjid Besar Nurul Hidayah, Babulu Darat, Penajam Paser Utara. Setiap hari ia azan, menjadi imam, membersihkan masjid, dan memastikan jamaah menjalankan salat dengan tertib.
Ifransyah – Headlinews.id
Honor yang diterimanya hanya Rp1,5 juta per bulan—cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri, dan dua anaknya yang masih sekolah. Meski hidup sederhana, ia selalu menunaikan tugasnya dengan ikhlas dan penuh dedikasi.
Namun pada 9 September 2025, hidupnya berubah seketika. Ardani terpilih mengikuti program Gratispol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk umrah gratis bagi marbot dan petugas masjid. Awalnya ia merasa ragu dan bingung.
“Awalnya saya kira ini penipuan. Semua data pribadi diminta—KK, KTP, segala macam. Tapi lama-lama saya percaya, ternyata benar,” kenangnya sambil tersenyum, mengenang perasaan campur aduk saat pertama kali menerima kabar keberangkatannya.
Setelah diinformasikan terpilih, melengkapi dokumen, dan mengikuti pembekalan manasik selama dua hari. Selanjutnya ia dan rombongan 48 orang dari Penajam berkumpul untuk keberangkatan.
Rasa haru mulai muncul sejak malam sebelum keberangkatan. Tubuhnya letih setelah seharian bekerja di masjid, namun matanya sulit terpejam.
Esok harinya, Mereka diarahkan menuju Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, sebelum transit di Jakarta dan menginap semalam di hotel.
Disana, uang biaya paspor yang sebelumnya ia tanggung sendiri dikembalikan. “Saya bayar 650 ribu, untung ada honor dari masjid. Di Jakarta diganti lagi 750 ribu,” ujarnya.
Keberangkatan ke Jeddah pada 10 September menjadi momen yang tak terlupakan. Di pesawat, peserta mengenakan ihram, bersiap menghadapi rangkaian ibadah yang telah lama diimpikan. Saat pesawat mendekati Jeddah, Ardani menatap bumi dari atas dan air mata tak terbendung.
“Melihat Jeddah dari udara, saya sampai terharu… Masya Allah, tidak tergambarkan. Rasanya campur aduk antara bahagia, syukur, dan takjub,” ucapnya.
Sesampainya di Mekah, ia menjalani empat hari ibadah umrah. Setiap langkahnya terasa sakral. Ia tak hanya mengelilingi Ka’bah, tapi juga mengunjungi Jabal Rahmah, Mina, Arafah, dan sejumlah masjid bersejarah.
Setiap momen menjadi pembelajaran spiritual yang mendalam. Puncaknya, saat pertama kali melihat Ka’bah secara langsung, Ardani menitikkan air mata.
“Langsung menangis, sulit mengendalikan perasaan. Saya ini marbot, tiap hari bersih-bersih masjid, tiba-tiba diajak umrah oleh Pak Gubernur… Masya Allah,” katanya.
Padahal, program umrah gratis ini awalnya membuatnya ragu. “Saya kira cuma janji politik. Uang dari mana? Ternyata benar, ratusan orang diberangkatkan. Teman-temannya pun terkejut melihatnya berangkat. Mereka bilang, ‘masak sih?’ Tapi setelah melihat kami berangkat, baru percaya,” katanya.
Pengalaman ini bukan hanya soal ibadah. Bagi Ardani, kesempatan ini adalah bentuk penghargaan atas dedikasi para marbot yang hidup sederhana. Ia menegaskan, tanpa program ini, kesempatan menjejak Tanah Suci akan memakan waktu bertahun-tahun dan biaya besar.
“Kalau mau ke sana sendiri, harus kumpul uang lama sekali. Dengan program ini, saya sangat senang. Bangga juga,” ujarnya.
Meski sempat bimbang meninggalkan masjid, ia tetap berangkat karena amanah dari Kemenag. “Masjid itu kalau saya tinggalkan, tidak ada yang urus. Dengan bayaran segitu, orang pasti mikir-mikir. Tapi saya ikhlas,” ujarnya.
Selama 15 tahun, ia telah menghadapi berbagai pengalaman, termasuk pernah bersinggungan dengan polisi karena barang hilang di masjid. “Macam-macam sudah dialami, tapi semua sudah saya lewati,” katanya.
Perjalanan ini juga mempererat solidaritas antar peserta. Dari penyiapan dokumen, belajar manasik, hingga penerbangan dan ibadah di Mekah, Ardani berbagi pengalaman dengan sesama marbot dari berbagai kecamatan di Kaltim.
“Kami jadi satu keluarga besar. Saling bantu, saling mendukung. Perasaan bahagia itu semakin lengkap karena bisa berbagi dengan teman-teman yang juga memiliki pengalaman serupa,” katanya.
Kini, setelah kembali dari Tanah Suci, Ardani membawa pulang lebih dari sekadar cerita. Ia membawa ketenangan, rasa syukur, dan semangat untuk terus mengabdi.
“Pengalaman spiritual ini tidak bisa tergambarkan. Saya doakan program ini panjang rezekinya, dan banyak marbot lain bisa merasakan seperti saya,” tutupnya dengan mata berbinar.
Program Gratispol bagi marbot ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah provinsi terhadap para penjaga rumah ibadah yang telah lama mengabdi. Tak hanya meningkatkan kualitas spiritual, program ini juga memperkuat dedikasi, tanggung jawab, dan rasa syukur para marbot.
Bagi Ardani, pengalaman ini adalah momen yang akan selalu dikenang sepanjang hidupnya, sekaligus motivasi untuk terus melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Adv/Diskominfo Kaltim
Reporter : Irfansyah










