SAMARINDA, Headlinews.id – Bantuan pembebasan biaya kuliah melalui program Gratispol dinilai sangat membantu mahasiswa, khususnya dari keluarga kurang mampu.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.
Menurut Seno Aji, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus melakukan evaluasi agar program bantuan pendidikan ini semakin tepat sasaran dan menjangkau lebih banyak mahasiswa yang membutuhkan.
“Program ini akan terus kita lanjutkan dengan perbaikan dalam penyalurannya. Tahun ini, kita menargetkan bantuan pendidikan menjangkau sekitar 159 ribu mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mulai memperhatikan kebutuhan pendukung mahasiswa selain biaya kuliah. Salah satunya melalui optimalisasi asrama mahasiswa agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan fasilitas yang lebih memadai.
“Untuk tempat tinggal, kita dorong pemanfaatan asrama yang ada dengan peningkatan fasilitas, sehingga bisa membantu mahasiswa yang berasal dari luar daerah,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan tim Gratispol dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Raihan menyampaikan program ini telah dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa di kampus tersebut.
Ia menyebutkan, sekitar 1.300 mahasiswa di UINSI Samarinda telah menerima pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) melalui program Gratispol, yang dinilai sangat meringankan beban biaya pendidikan.
“Bantuan ini sangat membantu, terutama bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi, karena beban UKT bisa berkurang bahkan bebas,” kata Raihan.
Berdasarkan hasil pemantauan terhadap penerima manfaat, lanjutnya, mayoritas mahasiswa berharap program Gratispol dapat terus dilanjutkan. Kekhawatiran muncul jika bantuan tersebut tidak lagi tersedia, terutama bagi mahasiswa baru.
“Mahasiswa baru cukup khawatir, karena kalau bantuan ini tidak ada, ada kemungkinan mereka tidak bisa melanjutkan kuliah,” ujarnya.
Meski demikian, Raihan menilai program Gratispol masih perlu penguatan ke depan. Salah satunya dengan mempertimbangkan dukungan biaya hidup bagi mahasiswa kurang mampu.
“Selain UKT, kebutuhan mahasiswa juga mencakup biaya sehari-hari. Ini yang ke depan mungkin bisa menjadi perhatian tambahan,” tutupnya. (*/if)










