NUNUKAN, Headlinews.id – Matahari perlahan tenggelam di Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan. Desa di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia ini berubah menjadi senyap.
Lampu jalan tidak ada, listrik nyaris tak pernah stabil, dan sinyal telepon hilang dari pandangan. Gelap malam menjadi bagian dari keseharian warga yang berjumlah sekitar 70 kepala keluarga atau 400-an jiwa.
Di tengah kegelapan, warga menyalakan lilin atau lampu minyak. Beberapa keluarga mampu menyalakan genset, tetapi bahan bakarnya mahal dan sulit didapat.
Mastario, seorang pemuda desa, menggambarkan kehidupan malam mereka, desa dengan sejuta keindahan alam ini hilang tanpa cahaya di malam hari.
“Di rumah, biasanya kami hanya duduk, ngobrol sebentar, atau menyalakan lilin. Aktivitas malam sangat terbatas,” ujarnya.
Ketiadaan listrik berdampak langsung pada dunia pendidikan. Sekolah tidak memiliki fasilitas memadai untuk belajar malam atau menggunakan perangkat digital. Anak-anak hanya bisa belajar di siang hari, ketika cahaya matahari masih cukup.
“Tanpa listrik malam hari, anak-anak tidak bisa mengulang pelajaran atau belajar lewat internet. Ini sangat membatasi mereka,” kata Mastario.

Akses komunikasi juga menjadi persoalan besar. Desa ini sebelumnya memiliki jaringan Telkomsel Bakti sejak 2021, namun sejak akhir 2024, sinyal hilang.
Warga harus mengandalkan perjalanan ke desa lain atau menitip pesan lewat warga yang bepergian, khususnya ke Desa Mansalong yang menjadi pusat perbelanjaan warga juga pusat pembelanjaan warga,
“Untuk menyampaikan informasi penting, kami biasanya menitip pesan lewat warga yang pergi ke Mansalong atau desa lain yang ada sinyal. Kalau ada urusan mendesak, itu satu-satunya cara,” jelasnya.
Keterbatasan ini juga memengaruhi layanan kesehatan. Posyandu dan fasilitas medis tidak bisa menggunakan alat yang membutuhkan listrik stabil. Alat medis krusial sering tidak berfungsi, sehingga pelayanan kesehatan terbatas.
“Beberapa alat penting tidak bisa dipakai. Nah kalau yang sakit ini misal keadaan darurat, langsung dibawa ke puskesmas terdekat di Puskesmas Binter Kecamatan Lumbis Ogong menggunakan longboat,” tambah Mastario lagi.
Selain listrik dan sinyal, warga berharap pemerintah segera membangun jalan darat untuk mengurangi ketergantungan pada jalur sungai yang bergantung cuaca dan debit air. Akses yang terbatas membuat mobilitas sulit dan membatasi peluang ekonomi.
“Kalau ada listrik, sinyal, dan jalan, hidup kami akan berubah. Anak-anak bisa belajar lebih baik, pelayanan kesehatan lancar, dan ekonomi bergerak,” ujarnya.
Bagi masyarakat Long Bulu, listrik dan sinyal lebih dari sekadar kenyamanan. Kehadiran keduanya adalah simbol kehadiran negara di wilayah perbatasan serta jembatan menuju kesempatan yang setara dengan daerah lain di Tanah Air.
“Kehadiran listrik dan sinyal bukan hanya soal lampu atau sinyal. Ini soal masa depan anak-anak, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih layak,” tutup Mastario dengan harap. (saf)










