TARAKAN, Headlinews.id – Insiden kecelakaan pesawat pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pelita Air Services yang jatuh saat lepas landas dari Bandara Long Bawan, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kamis (19/2/2026), mengakibatkan pilotnya meninggal dunia.
General Manager AirNav Indonesia Cabang Tarakan, Dheny Purwo Hariyanto memastikan penerbangan pesawat PK PAA berlangsung dalam status AFIS (Aerodrome Flight Information Service), keputusan untuk terbang sepenuhnya berada pada pilot in command.
“Terkait kecelakaan pesawat pengangkut bahan bakar dengan pilot tunggal Captain Hendrik yang dilaporkan meninggal dunia, pesawat lepas landas dari runway 22 pada pukul 12.10 WITA. Kondisi saat itu memang memungkinkan untuk terbang,” ujar Dheny, dalam press rilis di Bandara Juwata Tarakan.
Ia menjelaskan, setelah take-off pesawat sempat melakukan manuver membelok ke arah selatan menuju Tarakan. Pilot bahkan telah menyampaikan estimasi waktu kedatangan.
“Pilot menyampaikan estimasi tiba di Malinau pukul 12.24 WITA dan di Tarakan pukul 13.15 WITA. Artinya fase awal penerbangan berjalan normal, bahkan pesawat sempat mencapai ketinggian 7.000 feet,” jelasnya.
Namun, beberapa menit setelah airborne, kontak dengan pesawat hilang. Sekitar pukul 12.20 WITA, AirNav Tarakan menerima informasi dari pesawat Susi Air yang berada di wilayah Krayan.
“Susi Air melaporkan gagal mendarat di Long Bawan karena cuaca buruk dan dialihkan ke Malinau. Saat berkomunikasi dengan Malinau, mereka melihat sinyal emergency yang sangat kuat dari pesawat PK PAA. Informasi itu langsung kami teruskan ke Danlanud, Basarnas, dan UPPU untuk penanganan lebih lanjut,” ungkap Dheny.
Ia menegaskan, proses lepas landas berjalan sesuai prosedur dan tidak ada laporan gangguan pada fase awal penerbangan. “Semua prosedur operasional terpenuhi. Untuk penyebab kecelakaan akan dilakukan investigasi lebih lanjut oleh pihak berwenang,” tegasnya.
Sementara itu, Lead Engineer Pelita Air, Angga Riko, memastikan kondisi pesawat dan pilot sebelum kejadian dalam keadaan layak terbang.
“Operasi pesawat PK PAA dimulai sejak 2021. Captain Hendrik sudah tiga tahun mengoperasikan jenis pesawat ini dan sebelumnya juga berpengalaman di perusahaan penerbangan perintis lain,” jelas Angga.
Ia menambahkan, pengecekan terakhir dilakukan pada Minggu sebelum kejadian dan seluruh komponen dinyatakan aman.
“Penerbangan ini berangkat dari home base Tarakan menuju Long Bawan dan kembali lagi ke Tarakan. Pesawat berangkat pukul 10.30 WITA. Muatan BBM sekitar 4.000 liter, dengan distribusi tangki 2.700 liter di atas dan 1.300 liter di bawah,” tandasnya. (saf)










