DALAM dunia akademik, perlombaan menjadi salah satu kegiatan pendukung yang banyak diminati mahasiswa. Salah satunya adalah kompetisi esai. Dengan tingkat kesulitan dan persaingan yang tinggi, peserta perlu menghasilkan gagasan menarik dan berbeda, termasuk dalam menentukan topik, agar dapat menjadi pemenang.
Dalam perlombaan, penilaian tidak semata-mata bergantung pada besarnya dampak suatu ide, tetapi juga keunikan gagasan dibandingkan dengan ide-ide lainnya. Pemikiran inilah yang mengantarkan Salman meraih kemenangan dalam kompetisi esai nasional.
Salman Al Farici, yang akrab disapa Salman, merupakan lulusan Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara. Ia berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi esai nasional yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Surabaya pada 2024. Perlombaan dalam rangka Dies Natalis tersebut mengangkat tema isu sosial, yakni “Gender Equality and Social Inclusion”.
Dalam perjalanan menuju kemenangan, Salman melalui berbagai tahapan, termasuk menentukan topik yang akan diangkat dalam esainya. Menurutnya, keunikan gagasan menjadi salah satu aspek yang dicari dalam perlombaan. Oleh sebab itu, ia berusaha menemukan topik yang belum banyak diketahui orang, tetapi memiliki urgensi untuk dibahas. Pertimbangan tersebut mendorongnya mengangkat isu kebijakan perempuan dan pendidikan.
Selain menentukan topik, Salman juga menghadapi sejumlah kendala selama menyusun esai. Ia ingin mengembangkan pembahasan agar tidak berhenti pada tulisan semata, sehingga membutuhkan data pendukung yang relevan. Namun, proses pengumpulan data tidak selalu mudah. Beberapa sumber menyediakan informasi yang dapat diakses secara gratis, seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan GoodStats, tetapi untuk memperoleh data yang lebih lengkap, terkadang diperlukan biaya.
Kendala lainnya muncul ketika ia berusaha menghubungkan topik yang diangkat dengan kondisi di Indonesia, terutama terkait bukti penerapan kesetaraan gender dan inklusi sosial. Informasi mengenai penerapan kedua aspek tersebut tidak selalu disampaikan secara tersurat, meskipun sejumlah data dapat ditemukan dari Komisi Nasional (Komnas) dan United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women).
Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kegiatan akademik maupun nonakademik, Salman juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Kesibukan yang dijalaninya bersamaan dengan persoalan pribadi sempat menyulitkan proses penyusunan esai. Meski demikian, berbagai kendala tersebut tidak menghentikannya untuk menyelesaikan tulisan dan mengikuti kompetisi hingga berhasil meraih prestasi.
Untuk mengatur waktu dan menjaga produktivitas, Salman menyediakan sekitar 30 hingga 50 menit setiap hari untuk menyusun setidaknya satu bab esai. Ia juga menekankan pentingnya membaca dalam proses menulis. Menurutnya, membaca dapat memperluas perspektif, menambah kosakata, serta meningkatkan pemahaman terhadap kaidah ejaan bahasa Indonesia. Namun, bahan bacaan tetap perlu dipilih sesuai kebutuhan karena setiap bacaan memberikan manfaat yang berbeda.
“Apapun yang kalian lihat di internet atau sesuatu, bahkan itu papan spanduk iklan di jalan, aku pikir kalian harus baca itu karena membaca itu membuka pikiran. Membacalah yang berbobot, jadi pilah-pilih apa yang harus kalian baca dan apa yang tidak perlu dibaca,” ujar Salman.
Bacaan untuk memperluas wawasan tidak terbatas pada karya nonfiksi. Kutipan, konten media sosial berbentuk fiksi, hingga novel juga dapat menjadi sumber bacaan. Untuk memperdalam pemahaman tentang penulisan esai, Salman menyarankan agar peserta mempelajari karya para pemenang kompetisi esai dari berbagai kampus sebagai referensi. Karya-karya tersebut dapat ditemukan melalui sejumlah situs di internet. Selain membaca, kemampuan mendengarkan juga diperlukan untuk memperoleh perspektif baru yang dapat memunculkan gagasan bermakna.
Kepekaan terhadap isu sosial yang sedang berkembang juga diperlukan bagi seseorang yang ingin mengikuti kompetisi esai. Dengan mengikuti perkembangan berbagai persoalan di masyarakat, penulis dapat menemukan sudut pandang baru dan mengembangkan gagasan yang memiliki ciri khas tersendiri.
“Kita menarik benang merah antara isu yang sekarang dengan kondisi yang akan terjadi di masa depan. Itu akan menghasilkan suatu ide baru yang membuat tulisan itu akan [menjadi] lebih unik,” ujarnya. (**)
Tentang Penulis
Tulisan ini disusun oleh Yudika Phareta Simorangkir dari Nirmala Publisher, sebuah publisher yang dibentuk sebagai bagian dari tugas mata kuliah Publisitas di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara.










