IBADAH puasa Ramadhan menjadi momentum pembinaan diri bagi umat Muslim. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan untuk meningkatkan kesabaran, keikhlasan, serta pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
Selama menjalankan puasa, setiap Muslim dituntut menjaga sikap, ucapan, dan perbuatan agar tetap sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Proses ini membentuk pribadi yang lebih sabar dalam menghadapi ujian dan lebih ikhlas dalam menjalani setiap ketentuan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Walladzii nafsyu Muhammadin biyadihi, la khuluufu famesh shooimi athyabu ‘indallahi min riihil misk.”
Artinya: “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa di sisi Allah SWT. Bahkan sesuatu yang secara lahiriah dianggap kurang menyenangkan, memiliki nilai yang sangat tinggi karena dilakukan dalam rangka ketaatan kepada-Nya.
Puasa juga menjadi tameng dari perbuatan maksiat. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, umat Muslim sekaligus dilatih untuk menjauhi perbuatan yang dapat mengurangi pahala dan merusak nilai ibadah. Pengendalian diri ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter yang lebih baik.
Karena itu, selama bulan Ramadhan umat dianjurkan memperbanyak amal kebaikan, seperti memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga perilaku. Upaya tersebut dilakukan agar puasa benar-benar bernilai di sisi Allah SWT dan membawa perubahan positif dalam kehidupan setelah Ramadhan berakhir.







