SENYUM anak-anak saat membagikan makanan berbuka menjadi gambaran indah suasana Ramadhan. Dari momen sederhana itu, nilai kepedulian dan keikhlasan mulai tumbuh sejak dini.
Berbagi takjil, menyisihkan sebagian uang saku untuk sedekah, atau membantu menyiapkan hidangan berbuka di rumah merupakan contoh kecil yang dapat dilakukan anak-anak.
Kebiasaan tersebut menjadi langkah awal dalam menanamkan rasa empati terhadap sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Man faththara shaa’iman kaana lahu mitslu ajrihi ghayra annahu laa yanqush min ajris shaa’imi syai’an.”
Artinya: “Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut menjelaskan besarnya pahala berbagi makanan kepada orang yang berpuasa. Nilai ini menjadi dorongan bagi umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan amal kebaikan selama Ramadhan.
Melalui kebiasaan berbagi, anak-anak belajar kebaikan tidak diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari niat yang tulus. Sikap peduli dan semangat membantu orang lain akan membentuk karakter yang dermawan serta penuh rasa syukur.
Ramadhan pun menjadi ruang pembelajaran sosial yang nyata. Dari aktivitas sederhana di lingkungan sekitar, tumbuh generasi yang memiliki kepedulian, empati, dan semangat kebersamaan.
Dengan menanamkan nilai berbagi sejak dini, bulan suci ini diharapkan melahirkan pribadi-pribadi yang gemar berbuat baik, tidak hanya selama Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.










