TANJUNG SELOR, Headlinews.id – Kenaikan luas areal tanam padi di Kabupaten Bulungan sepanjang 2025 belum serta-merta mengubah peta ketahanan pangan daerah. Di tengah ekspansi lahan yang cukup agresif, Bulungan masih bergantung pada pasokan beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sepanjang tahun lalu, Luas Tambah Tanam (LTT) di Bulungan melonjak hingga mendekati 4.000 hektare. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan berdampak langsung pada peningkatan produksi beras daerah.
Berdasarkan catatan pemerintah daerah, produksi beras Bulungan pada 2025 berada di kisaran 12.000 ton. Angka ini menunjukkan tren positif, namun masih tertinggal dari kebutuhan konsumsi tahunan masyarakat yang mencapai sekitar 16.000 ton.
Situasi tersebut menggambarkan pertumbuhan produksi belum sepenuhnya mampu mengejar laju kebutuhan pangan, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat.
Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan peningkatan LTT merupakan fondasi awal dalam memperkuat sektor pertanian pangan, namun masih memerlukan penguatan di sisi produktivitas dan kesinambungan tanam.
“Perluasan tanam sudah kita lakukan cukup signifikan, tetapi tantangannya sekarang bagaimana hasil per hektare bisa lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Syarwani, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, lonjakan LTT yang terjadi dalam dua tahun terakhir perlu diimbangi dengan sistem pendukung pertanian yang lebih kuat, mulai dari pengairan, ketersediaan benih unggul, hingga kepastian sarana produksi bagi petani.
“Kalau hanya menambah luasan tanpa meningkatkan hasil panen, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah tetap akan terjadi,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Bulungan menyiapkan program cetak sawah baru seluas sekitar 800 hektare yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2026. Selain itu, usulan penambahan cetak sawah minimal 1.000 hektare juga akan diajukan ke pemerintah pusat.
Namun, pemerintah daerah menyadari cetak sawah baru tidak langsung memberikan dampak instan terhadap ketersediaan beras. Proses penyiapan lahan hingga panen membutuhkan waktu serta dukungan teknis yang matang.
Secara perhitungan, satu kali masa tanam pada lahan seluas 800 hektare dengan produktivitas rata-rata 4 ton per hektare baru menghasilkan sekitar 1.800 ton beras. Angka tersebut masih jauh dari selisih kebutuhan yang harus ditutup.
Pemkab Bulungan mulai mengarahkan kebijakan pertanian pada penguatan pola tanam dua kali setahun dan peningkatan efisiensi produksi di lahan eksisting, bukan semata memperluas areal baru.
“Keinginan kami, produksi meningkat secara nyata. Kuncinya ada pada produktivitas lahan dan kesiapan petani dalam menerapkan pola tanam yang lebih optimal,” kata Syarwani.
Dengan jumlah penduduk sekitar 167 ribu jiwa, kebutuhan beras Bulungan diperkirakan terus meningkat setiap tahun. Pemerintah daerah menegaskan sektor pangan tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan, sejalan dengan visi pembangunan hijau dan berkelanjutan.
“Ketahanan pangan daerah harus dibangun secara bertahap dan realistis. Target swasembada tetap kita kejar, tetapi dengan perencanaan yang matang agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Syarwani. (rn)









