MEDAN, Headlinews.id – Pergantian tren fesyen yang cepat membuat pakaian mudah menumpuk tanpa kembali dikenakan. REKA Project mengajak generasi muda meninjau kebiasaan tersebut dengan memanfaatkan pakaian lama sebagai bahan kreasi, bukan langsung membuangnya.
Project Manager REKA Project, Dwi Garini Oktavianti, mengatakan persoalan limbah tekstil semakin relevan dibicarakan seiring berkembangnya tren fast fashion. Kebiasaan mengikuti perubahan gaya berpakaian membuat masyarakat berpotensi memiliki pakaian yang masih layak, tetapi tidak lagi digunakan.
“Persoalan limbah tekstil ini cukup mengkhawatirkan, apalagi perkembangan fast fashion semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tren pakaian cepat berubah, sementara pakaian yang sudah tidak digunakan bisa terus menumpuk. Kami ingin anak muda memahami persoalan ini dari kebiasaan yang mereka jalani sendiri,” ujar Dwi.
Menurutnya, pendekatan kepada generasi muda perlu dilakukan dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka. Isu lingkungan dapat diperkenalkan lewat kegiatan kreatif sehingga peserta tidak hanya memperoleh pemahaman, tetapi juga mengenal alternatif pemanfaatan pakaian bekas.
“Generasi Z sangat dekat dengan perkembangan tren fesyen. Karena itu, pembahasan mengenai limbah tekstil juga perlu dikaitkan dengan gaya hidup mereka. Ketika pakaian lama masih bisa diolah, ada pilihan lain yang dapat dilakukan daripada langsung membuangnya,” katanya.
Pendekatan tersebut diwujudkan REKA Project lewat lokakarya menjahit dan mengolah pakaian bekas di Nutrihub Medan, Jumat (9/10/2026). Peserta diajak menggunakan pakaian yang sudah tidak terpakai sebagai bahan untuk menghasilkan produk baru. Sebelumnya, kampanye mengenai persoalan fast fashion dan limbah tekstil juga digelar di kawasan Car Free Day (CFD) pada Minggu (4/10/2026).
Dalam kegiatan utama, REKA Project berkolaborasi dengan Rumah Kreatif Rani, kelompok kreatif dan pegiat lingkungan dari Binjai. Kolaborasi itu memberi ruang bagi peserta untuk mengenal pengolahan pakaian bekas melalui praktik langsung, termasuk menjahit dan mengubah fungsi pakaian.
Perwakilan Rumah Kreatif Rani, Khairani Lubis, menilai kegiatan kreatif dapat membantu masyarakat memahami bahwa upaya menjaga lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Pakaian yang sudah jarang digunakan, menurutnya, masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.
“Hal sederhana seperti mengolah pakaian bekas bisa memberi manfaat jika dilakukan dengan kesadaran. Kita tidak harus langsung membuang barang yang sudah jarang dipakai, sebab masih ada kemungkinan untuk membuatnya berguna kembali. Dari kegiatan seperti ini, kesadaran terhadap lingkungan bisa tumbuh secara bertahap,” ujar Khairani.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membeli atau membuang pakaian. Kebiasaan menggunakan kembali barang yang masih layak dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi sampah.
“Di tengah tren fast fashion, masyarakat perlu lebih sadar terhadap barang yang mereka gunakan. Saya berharap kegiatan seperti ini membuat orang lebih terbuka melihat pakaian bekas, bahwa barang tersebut masih bisa diolah dan memiliki manfaat bagi lingkungan,” tambahnya.
Salah seorang peserta, Mutiara Chairunnisa, mengaku tertarik mengikuti lokakarya karena kegiatan tersebut memanfaatkan pakaian bekas sebagai bahan menjahit. Baginya, praktik itu memberikan ide baru untuk pakaian yang selama ini hanya tersimpan di rumah.
“Saya tertarik karena bahan yang digunakan adalah pakaian bekas. Ternyata pakaian yang sudah jarang dipakai masih bisa diolah menjadi sesuatu yang berbeda dan punya nilai guna. Di rumah juga ada banyak pakaian yang sudah tidak terlalu terpakai, jadi saya ingin mencoba memanfaatkannya lagi,” kata Mutiara.
Ia menilai kegiatan praktik langsung membuat pemanfaatan pakaian bekas lebih mudah dipahami. Peserta dapat melihat bahwa pakaian lama tidak selalu harus dibuang, tetapi bisa dikreasikan sesuai kebutuhan dan keterampilan yang dimiliki.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi punya gambaran untuk mencoba mengolah pakaian yang ada di rumah. Selama ini pakaian yang sudah jarang dipakai biasanya hanya disimpan. Sekarang saya tertarik mencoba menjahit atau membuatnya menjadi barang lain supaya bisa digunakan kembali,” tuturnya.
REKA Project mengangkat pemanfaatan pakaian bekas sebagai salah satu cara memperpanjang masa pakai tekstil sekaligus memperkenalkan persoalan limbah fesyen kepada generasi muda. Kegiatan ini juga memberi ruang bagi peserta untuk mencoba langsung pengolahan pakaian lama menjadi produk dengan fungsi berbeda. (saf/*)










