TARAKAN, Headlinews.id– Temuan tiga kasus influenza tipe A di Kota Tarakan sejak akhir 2025 mendorong Dinas Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dikenal sebagai super flu, meski seluruh pasien telah dinyatakan sembuh.
Dinas Kesehatan Kota Tarakan menilai influenza tipe A memiliki potensi gangguan kesehatan yang lebih berat dibandingkan flu musiman. Penyakit ini menjadi perhatian karena dapat menyebabkan kondisi tubuh menurun dengan cepat, terutama pada kelompok usia tertentu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina menerangkan penyebutan super flu berkembang di masyarakat untuk menggambarkan beratnya gejala yang dirasakan pasien.
“Secara medis ini termasuk influenza tipe A. Penyebutannya berbeda di masyarakat karena keluhannya terasa lebih berat dibanding flu pada umumnya,” jelas Rinny.
Ia menjelaskan, demam tinggi menjadi salah satu ciri yang paling sering ditemukan pada pasien influenza tipe A. Suhu tubuh penderita dapat meningkat hingga di atas 39 derajat Celsius dan disertai keluhan lain yang mengganggu aktivitas harian.
“Pasien biasanya mengeluhkan badan terasa nyeri, sakit kepala, tenggorokan tidak nyaman, dan kondisi tubuh sangat lemas,” katanya.
Rinny mengungkapkan, tiga kasus yang tercatat di Tarakan telah teridentifikasi sejak November 2025. Penetapan diagnosis memerlukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium rujukan sehingga hasilnya tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat.
“Sampel diperiksa di laboratorium rujukan luar daerah. Prosesnya memakan waktu karena pemeriksaan dilakukan sesuai antrean,” ujarnya.
Ia menegaskan, hingga Januari 2026 belum ada tambahan laporan kasus serupa. Kendati demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena penyakit ini mudah menyebar melalui droplet, terutama di lingkungan dengan interaksi tinggi.
“Penularannya cukup cepat dan sering tidak disadari karena banyak orang menganggapnya flu biasa,” ucap Rinny.
Menurutnya, dampak penyakit sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing individu. Kelompok lanjut usia, anak-anak, serta penderita penyakit penyerta berisiko mengalami kondisi yang lebih berat.
“Kelompok ini perlu perhatian lebih karena respons tubuh terhadap infeksi biasanya tidak sekuat orang sehat,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tarakan telah mengingatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan agar meningkatkan ketelitian saat menerima pasien dengan keluhan flu dan demam tinggi.
“Tenaga kesehatan diminta mencermati keluhan pasien secara menyeluruh, terutama bila suhu tubuhnya berada di atas batas normal,” tuturnya.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga terus diperkuat. Dinkes mendorong penerapan kebiasaan hidup bersih dan sehat sebagai upaya menekan risiko penularan penyakit pernapasan
“Penggunaan masker saat sakit, mencuci tangan secara rutin, dan mengurangi aktivitas di luar rumah sangat membantu melindungi orang di sekitar,” ujar Rinny.
Ia menambahkan, upaya menjaga kebugaran tubuh tetap penting dilakukan melalui pola makan bergizi, istirahat cukup, serta aktivitas fisik yang teratur. Vaksin influenza juga disebut masih dapat dimanfaatkan sebagai langkah pencegahan tambahan.
“Vaksin influenza tetap bisa digunakan meskipun jenis virusnya tidak sama persis,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Kota Tarakan mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala flu berat. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dinilai penting untuk memastikan kondisi kesehatan serta mencegah risiko penularan lanjutan.
“Jika keluhannya terasa berat dan tidak membaik, segera periksakan diri agar penanganannya lebih cepat,” tutup Rinny. (saf)










