TANA TIDUNG, Headlinews.id– Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 2025 resmi digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-80 Republik Indonesia dan HUT ke-18 Kabupaten Tana Tidung.
Kegiatan yang berlangsung 27–29 Agustus ini mengangkat olahraga tradisional sebagai ajang utama, diikuti oleh pelajar, aparatur sipil negara (ASN), dan masyarakat umum.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung, Arman Jauhari, menegaskan PKD 2025 tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan pembinaan generasi muda.
“Olahraga tradisional seperti Engrang, Bakiak, Gobak Sodor, hingga Sumpitan adalah warisan budaya yang harus kita lestarikan. Anak-anak dan generasi muda perlu mengenalnya agar nilai budaya daerah tetap hidup,” ujarnya.
Arman menyebutkan, PKD memiliki tiga tujuan utama: menumbuhkan minat generasi muda terhadap olahraga tradisional, memperkuat sportivitas dan kebersamaan, serta membangun karakter cinta tanah air.
Selain itu, kegiatan ini sekaligus mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan agar peserta dapat meneladani semangat patriotisme.
Peserta lomba terbagi dalam beberapa kategori. Untuk Engrang, Bakiak, dan Gobak Sodor, pesertanya berasal dari pelajar SD, SMP, SMA, ASN, dan masyarakat umum, baik putra maupun putri.
Sedangkan lomba Sumpitan dibuka untuk kategori umum putra dan putri. Jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan orang dengan antusiasme tinggi dari berbagai kalangan.
“Lomba ini bukan sekadar mencari pemenang. Yang lebih penting adalah nilai kejujuran, kerja sama, dan disiplin yang bisa dipetik dari setiap pertandingan,” kata Arman.
Dewan juri lomba terdiri dari 13 guru olahraga IGORNAS Tana Tidung, ditambah tiga tokoh masyarakat khusus cabang Sumpitan. Para pemenang nantinya akan memperoleh piala, medali, piagam penghargaan, dan uang pembinaan.
Arman menjelaskan bahwa PKD 2025 sepenuhnya didanai melalui APBD Kabupaten Tana Tidung. Ia berharap kegiatan ini mampu mempererat silaturahmi antarwarga serta membangun kebanggaan masyarakat terhadap identitas budaya daerah.
“Pembangunan tidak hanya bicara soal infrastruktur, tetapi juga membangun manusia yang berkarakter dan berbudaya. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin menanamkan rasa cinta budaya daerah sekaligus semangat persatuan,” tambahnya.
Arman pun menutup sambutannya dengan sebuah pantun:
“Ada timun ada pepaya, jika dimakan mantap rasanya.
Tana Tidung kaya warisan budaya, tugas kita semua untuk menjaganya,” katanya.
Pekan Kebudayaan Daerah 2025 di Tana Tidung diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya melestarikan budaya lokal sekaligus menumbuhkan generasi yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. (*/hr)