NUNUKAN, Headlinews.id – Pasar murah yang digelar Bank Indonesia di Nunukan sukses membantu masyarakat perbatasan memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Kegiatan tersebut menyasar warga yang berada jauh dari pusat distribusi dan memiliki akses transportasi terbatas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik mengatakan kondisi masyarakat di kawasan perbatasan perlu mendapat dukungan, terutama karena wilayah tersebut berada jauh dari pusat distribusi dan memiliki keterbatasan akses transportasi.
“Wilayah perbatasan merupakan beranda terdepan Indonesia. Kehadiran Bank Indonesia melalui layanan kas, edukasi, dan kerja sama lintas instansi diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat,” ujar Agus.
Pasar murah dilaksanakan BI Kaltara bersama Pemerintah Kabupaten Nunukan. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat distribusi.
Keterbatasan akses transportasi ikut memengaruhi kemudahan warga memperoleh kebutuhan pokok. Karena itu, pasar murah diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau sekaligus meringankan beban pengeluaran.
Agus mengatakan dukungan terhadap masyarakat perbatasan juga berkaitan dengan kesejahteraan warga. Menurutnya, kerja bersama sejumlah pihak diperlukan dalam memperkuat kondisi masyarakat di kawasan tersebut.
“Kami berharap sinergi yang terjalin bersama Pemerintah Kabupaten Nunukan, BOTASUPAL, dan Satgas Pamtas dapat semakin memperkuat kedaulatan Rupiah dan mendukung kesejahteraan masyarakat perbatasan,” kata Agus.
Selain menjaga keterjangkauan harga, pasar murah diarahkan untuk membantu memastikan ketersediaan kebutuhan pokok. Kegiatan tersebut juga diharapkan mendukung stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
Pasar murah berlangsung dalam rangkaian kegiatan BI Kaltara di Kecamatan Sebuku dan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, pada 28–30 September 2026.
Agus mengatakan dukungan berbagai pihak juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah.
“Sinergi yang kuat akan menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah dan sistem pembayaran nasional,” ujar Agus. (rs/*)







