Di Jalan Ramania No. 01, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda berdiri Masjid Jami Al-Ma’ruf, sebuah tempat ibadah yang selalu ramai dikunjungi jamaah.
Di balik kesibukan itu, ada sosok sederhana yang tak pernah banyak orang kenal: Taif, marbot berusia 60 tahun.
Sehari-hari, Taif bertugas merawat kebersihan masjid, melakukan perbaikan kecil, dan memastikan fasilitas selalu siap digunakan. Sebenarnya ia tidak sendiri, tetapi ada beberapa marbot lainnya yang memiliki tugas berbeda.
“Kalau marbot itu kan merangkap segalanya. Di sini saya yang urus maintenance,” ujarnya.
Ia sudah puluhan tahun mengabdikan diri untuk menjaga masjid agar menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi ribuan jamaah.
Masjid Al-Ma’ruf sendiri memiliki tiga lantai dengan kapasitas sekitar 3.500 jamaah, dan pada momen Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha, Taif selalu sibuk memastikan semua berjalan lancar, termasuk pengaturan parkir dan pembatasan area untuk jamaah perempuan.
Namun, tahun ini, kerja keras Taif mendapat apresiasi yang luar biasa. Ia berkesempatan menunaikan ibadah umroh ke Mekah, sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui program Gratispol. Salah satu program unggulan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakilnya Seno Aji.
Semua biaya perjalanan, mulai dari tiket pesawat, paspor, transportasi, hingga akomodasi, menjadi tanggungan pemerintah. Taif bahkan mendapat penginapan yang hanya sekitar 600 meter dari Kaabah, tepat di belakang Hotel Tower Jam.
“Awalnya saya tidak tahu sama sekali. Saya hanya mendapat telepon dari tim Gratispol. Mungkin ada pengurus masjid yang mendaftarkan saya. Tapi mungkin rezeki saya yang dapat kesempatan ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Program Gratispol memang dirancang sekaligus mempermudah proses pendaftaran dan pemberangkatan, terutama bagi mereka yang berdedikasi dalam pelayanan agama. Taif menegaskan, semuanya berjalan lancar dan tidak dipersulit.
“Alhamdulillah, semuanya sangat mudah dan nyaman. Kalau bukan karena program Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, saya tidak akan bisa berangkat,” katanya.
Perjalanan umroh Taif berlangsung selama sembilan hari dan diikuti lebih dari 100 marbot dari berbagai daerah di Kalimantan Timur. “Kami berangkat bersama, semuanya ditanggung. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Saya merasa seperti mimpi,” ujarnya.
Bagi Taif, program ini lebih dari sekadar perjalanan spiritual. Ini adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap pekerjaan yang sering tidak terlihat.
“Kami marbot sehari-hari merawat masjid, membersihkan lantai, memperbaiki fasilitas. Dengan adanya program ini, kerja keras kami dihargai. Saya pribadi sangat berterima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur,” tambahnya.
Di sela kesibukannya sebagai marbot, Taif juga bekerja sebagai sopir dump truck, pekerjaan yang kini semakin sepi. Kesempatan mengikuti umroh membuatnya merasa bersyukur dan mendapat semangat baru.
“Program Gratispol ini sangat membantu, bukan hanya dari segi biaya, tapi juga memberi kebahagiaan dan pengalaman yang luar biasa,” katanya.
Pengalaman Taif menunaikan ibadah umroh tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang. Ia berharap, program seperti Gratispol ini bisa terus berjalan, memberi kesempatan bagi marbot lain dan para pekerja di bidang keagamaan untuk merasakan manfaat serupa.
“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menginjak Tanah Suci. Semoga program ini terus ada, agar marbot lain juga bisa merasakan kesempatan yang sama,” pungkas Taif dengan mata berbinar, menutup cerita yang hangat dan penuh haru.
Program Gratispol Pemprov Kaltim menjadi bukti nyata perhatian pemerintah dapat diwujudkan dalam program konkret yang langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama mereka yang selama ini berdedikasi di balik layar. Bagi Taif, ini bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi juga pengakuan atas dedikasinya menjaga rumah Tuhan.
(Adv/Diskominfo Kaltim)










